Suka Filsafat? Masuk Kemari

MAU DOLAR GRATIS? masuk sini

FENOMENOLOGI; Edmund Husserl




I. PENDAHULUAN
Di dalam kehidupan praktis sehari-hari, manusia bergerak di dalam dunia yang telah diselubungi dengan penafsiran-penafsiran dan kategori-kategori ilmu pengetahuan dan filsafat. Penafsiran-penafsiran itu sering kali diwarnai oleh kepentingan-kepentingan, situasi-situasi kehidupan dan kebiasaan-kebiasaan, sehingga ia telah melupakan dunia apa adanya, dunia kehidupan yang murni, tempat berpijaknya segala bentuk penafsiran.
Dominasi paradigma positivisme selama bertahun-tahun terhadap dunia keilmuan, tidak hanya dalam ilmu-ilmu alam tetapi juga pada ilmu-ilmu sosial bahkan ilmu humanistis, telah mengakibatkan krisis ilmu pengetahuan. Persoalannya bukan penerapan pola pikir positivistic terhadap ilmu-ilmu alam, karena hal itu memang sesuai, melainkan positivisme dalam ilmu-ilmu sosial, yaitu masyarakat dan manusia sebagai makhluk historis.
Problematik positivisme dalam ilmu-ilmu sosial, yang menghilangkan peranan subjek dalam membentuk ‘fakta sosial’, telah mendorong munculnya upaya untuk mencari dasar dan dukungan metodologis baru bagi ilmu sosial dengan ‘mengembalikan’ peran subjek ke dalam proses keilmuan itu sendiri. Salah satu pendekatan tersebut adalah pendekatan fenomenologi yang secara ringkas akan dibahas di bawah ini.
II. PEMBAHASAN
A. Riwayat Hidup
Edmund Gustav Aibercht Husserl, lahir di Prestejov (dahulu Prossnitz) di Czechoslovakia 8 April 1859 dari keluarga Yahudi. Di universitas ia belajar ilmu alam, ilmu falak, matematika, dan filsafat, mula-mula di Leipzig kemudian juga di Berlin dan Wina. Di Wina ia tertarik pada filsafat dari Brentano[1]. Dia mengajar di Universitas Halle dari tahun 1886-1901, kemudian di Gottingen sampai tahun 1916 dan akhirnya di Freiburg. Ia juga sebagai dosen tamu di Berlin, London, Paris, dan Amsterdam, dan Prahara. Husserl terkenal dengan metode yang diciptakan olehnya yakni metode “Fenomenologi” yang oleh murid-muridnya diperkembangkan lebih lanjut. Husserl meninggal tahun 1938 di Freiburg. Untuk menyelamatkan warisan intelektualnya dari kaum Nazi, semua buku dan catatannya dibawa ke Universitas Leuven di Belgia[2].
B. Tulisan-Tulisan Terpenting
1. Logische Untersucgsuchugen I dan II (Penyelidikan-penyelidikan logis), tahun 1900-1901. Bertujuan agar dapat mempelajari struktur kesadaran, karena itu harus dibedakan antara tindakan dari kesadaran dan fenomena di mana diarahkan (obyek memakai diri sendiri). Dengan membahas ini sekali lagi menunjukkan sikapnya yang menolak psikologi. Tidaklah mungkin memasukkan logika ke dalam psikologi, karena psikologi dapat mendeskripsikan proses faktual kegiatan akal, sedangkan logika hanya bisa mempertimbangkan sah atau tidaknya kegiatan akal tersebut. Edmund Hsserl menganalisa srtuktur intensi dari tindakan-tindakan mental dan bagaimana struktur ini terarah pada obyek yang real dan ideal.
2. Ideen zu einer reinen Phanomenologie und Phanomenologischen Philosophie, 1913 (Gagasan-gagasan untuk suatu fenomenolgi murni dan suatu filsafat fenomenologis). Seorang fenomenolog harus secara sangat cermat “menempatkan di antara tanda kurung”, artinya kenyataan di antara dunia luar. Yang utama ialah fenomenanya, dan fenomena ini hanya tampil dalam kesadaran. Usaha untuk melakukan pendekatan terhadap dunia luar ini, memerlukan metode yang khas, karena keinsyafan serta-merta mengenai dunia luar ini masuk merembes di mana-mana dan menyebabkan analisa yang keliru.
3. Meditations Cartesiennes 1931 (Renungan-renungan Kartesian). Dalam buku ini dibahas beberapa permenungan Kartesian, di mana semakin lama semakin penting. “Aku bertolak dari kesadaranku untuk menemukan kesadaran transedental (prinsip dasar dari pemahaman murni yang melampaui atau mengatasi batas-batas pengalaman) di dalamnya, tetapi bagaimana caranya menemukan pihak lain dalam kesadaran? Apakah dengan demikian mau tidak mau aku akan terperosok di dalam solipisme (Solipisme: percaya akan diri sendiri), sehingga yang ada hanyalah kesadaranku sendiri? Bagaimana aku dapat mengetahui adanya dunia intersubjektif?[3]
C. Pikiran-Pikiran Pokok
1. Fenomenologi
Fenomenologi (Inggris: Phenomenology) berasal dari bahasa Yunani phainomenon dan logos. Phainomenon berarti tampak dan phainen berarti memperlihatkan. Sedangkan logos berarti kata, ucapan, rasio, pertimbangan. Dengan demikian, fenomenologi secara umum dapat diartikan sebagai kajian terhadap fenomena atau apa-apa yang nampak. Lorens Bagus memberikan dua pengertian terhadap fenomenologi. Dalam arti luas, fenomenologi berarti ilmu tentang gejala-gejala atau apa saja yang tampak. Dalam arti sempit, ilmu tentang gejala-gejala yang menampakkan diri pada kesadaran kita.
Fenomenologi adalah ilmu tentang esensi-esensi kesadaran dan esensi ideal dari obyek-obyek sebagai korelat kesadaran[4]. Pertanyaannya, bagaimana esensi-esensi tersebut, tanpa terkontaminasi kecenderungan psikologisme dan naturalisme? Husserl mengajukan satu prosedur yang dinamakan epoche (penundaan semua asumsi tentang kenyataan demi memunculkan esensi). Tujuan epoche adalah mengembalikan sikap kita kepada dunia, yakni sikap yang menghayati, bukan memikirkan benda-benda. Contohnya, saat kita membeli pulpen, kita tidak memikirkan hal-hal yang teoritis, berapa panjang pulpen, berapa diameternya, dan lainnya. Kita membeli pulpen untuk menulis, artinya kita langsung menghayati.
Sebagai sebuah arah baru dalam filsafat, fenomenologi dimulai oleh Edmund Husserl (1859 – 1938), untuk mematok suatu dasar yang tak dapat dibantah, ia memakai apa yang disebutnya metode fenomenologis. Ia kemudian dikenal sebagai tokoh besar dalam mengembangkan fenomenologi. Namun istilah fenomenologi itu sendiri sudah ada sebelum Husserl. Istilah fenomenologi secara filosofis pertama kali dipakai oleh J.H. Lambert (1764). Dia memasukkan dalam kebenaran (alethiologia), ajaran mengenai gejala (fenomenologia). Maksudnya adalah menemukan sebab-sebab subjektif dan objektif ciri-ciri bayangan objek pengalaman inderawi (fenomen).
Edmund Husserl memahami fenomenologi sebagai suatu analisis deskriptif serta introspektif mengenai kedalaman dari semua bentuk kesadaran dan pengalaman-pengalaman langsung; religius, moral, estetis, konseptual, serta indrawi. Perhatian filsafat, menurutnya, hendaknya difokuskan pada penyelidikan tentang Labenswelt (dunia kehidupan) atau Erlebnisse (kehidupan subjektif dan batiniah). Penyelidikan ini hendaknya menekankan watak intensional kesadaran, dan tanpa mengandaikan praduga-praduga konseptual dari ilmu-ilmu empiris.
Fenomenologi merupakan metode dan filsafat. Sebagai metode, fenomenologi membentangkan langkah-langkah yang harus diambil sehingga kita sampai pada fenomena yang murni. Fenomenologi mempelajari dan melukiskan ciri-ciri intrinsik fenomen-fenomen sebagaimana fenomen-fenomen itu sendiri menyingkapkan diri kepada kesadaran. Kita harus bertolak dari subjek (manusia) serta kesadarannya dan berupaya untuk kembali kepada “kesadaran murni”. Untuk mencapai bidang kesadaran murni, kita harus membebaskan diri dari pengalaman serta gambaran kehidupan sehari-hari. Sebagai filsafat, fenomenologi menurut Husserl memberi pengetahuan yang perlu dan esensial mengenai apa yang ada. Dengan demikian fenomenologi dapat dijelaskan sebagai metode kembali ke benda itu sendiri (Zu den Sachen Selbt), dan ini disebabkan benda itu sendiri merupakan objek kesadaran langsung dalam bentuk yang murni.
Secara umum pandangan fenomenologi bisa dilihat pada dua posisi. Pertama ia merupakan reaksi terhadap dominasi positivisme, dan kedua, ia sebenarnya sebagai kritik terhadap pemikiran kritisisme Immanuel Kant, terutama konsepnya tentang fenomena – noumena. Kant menggunakan kata fenomena untuk menunjukkan penampakan sesuatu dalam kesadaran, sedangkan Noumena adalah realitas (das Ding an Sich) yang berada di luar kesadaran pengamat. Menurut Kant, manusia hanya dapat mengenal fenomena-fenomena yang nampak dalam kesadaran, bukan noumena yaitu realitas di luar yang kita kenal.
Husserl menggunakan istilah fenomenologi untuk menunjukkan apa yang nampak dalam kesadaran kita dengan membiarkannya termanifestasi apa adanya, tanpa memasukkan kategori pikiran kita padanya. Berbeda dengan Kant, Husserl menyatakan bahwa apa yang disebut fenomena adalah realitas itu sendiri yang nampak setelah kesadaran kita cair dengan realitas. Fenomenologi Husserl justru bertujuan mencari yang esensial atau eidos (esensi) dari apa yang disebut fenomena dengan cara membiarkan fenomena itu berbicara sendiri tanpa dibarengi dengan prasangka (presupposition).
Sebagai reaksi terhadap positivisme, filsafat fenomenologi berbeda dalam memandang objek, bila dibandingkan dengan filsafat positivisme, baik secara ontologis, epistemologis, maupun aksiologis. Dalam tataran ontologis, yang berbicara tentang objek garapan ilmu, filsafat positivisme memandang realitas dapat dipecah-pecah menjadi bagian yang berdiri sendiri, dan dapat dipelajari terpisah dari objek lain, serta dapat dikontrol. Sebaliknya, filsafat fenomenologi memandang objek sebagai kebulatan dalam konteks natural, sehingga menuntut pendekatan yang holistic, bukan pendekatan parsial.
Dalam tataran epistemologis, filsafat positivisme menuntut perencanaan penelitian yang rinci, konkret dan terukur dari semua variabel yang akan diteliti berdasarkan kerangka teoritik yang spesifik. Tata cara penelitian yang cermat ini kemudian dikenal dengan penelitian kuantitatif. Teori yang dibangun adalah teori nomothetik, yaitu berdasarkan pada generalisasi atau dalil-dalil yang berlaku umum. Sebaliknya, filsafat fenomenologi menuntut pemaknaan dibalik realitas, sehingga perlu keterlibatan subjek dengan objek, dan subjek bertindak sebagai instrumen untuk mengungkap makna di balik suatu realitas menurut pengakuan, pendapat, perasaan dan kemauan dari objeknya. Tata cara penelitian seperti ini kemudian dikenal dengan penelitian kualitatif. Teori yang dibangun adalah teori ideografis, yaitu upaya memberikan deskripsi kultural, human atau individual secara khusus, artinya hanya berlaku pada kasus yang diteliti.
Pada tataran aksiologis, filsafat positivisme memandang kebenaran ilmu itu terbatas pada kebenaran empirik sensual – logic dan bebas nilai. Sebaliknya, filsafat fenomenologi mengakui kebenaran ilmu secara lebih luas, yaitu mengakui kebenaran empirik sensual, kebenaran logic, kebenaran etik dan kebenaran transendental. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan yang diperoleh tidak bebas nilai (value free), akan tetapi bermuatan nilai (value bond), tergantung pada aliran etik yang dianutnya, apakah naturalisme, hedonisme, utilitarianisme, idealisme, vitalisme, ataukah theologisme atau pandangan filsafat yang lain.
Pengaruh fenomenologi sangat luas. Hampir semua disiplin keilmuan mendapatkan inspirasi dari fenomenologi, antara lain; psikologi, sosiologi, antropologi sampai arsitektur, bahkan penelitian tentang keagamaan menggunakan metode ini, semuanya memperoleh napas baru dengan munculnya fenomenologi, yang memberi peluang atau eksistensi bagi yang lain untuk hidup. [5]
2. Intensionalitas
Intensionalitas merupakan kunci filsafat Husserl. Intensionalitas adalah asumsi ontologis yang menyatakan bahwa esensi realita dengan sendirinya menampakan diri pada kesadaran intuitif subjek. Begitu pula sebaiknya, kesadaran subjek merupakan keinsyafan mendalam di tengah penampakan esensi realitas. Kesadaran subjek dan esensi realitas menyatu secara intensional dalam kesadaran subjek.[6] Ringkasnya, intensionalitas adalah menyatunya objek dan subjek secara psikis.
Tindakan seseorang dikatakan intensional, jika tindakan itu dilakukan dengan tujuan yang jelas. Namun di dalam filsafat Husserl, konsep intensionalitas memiliki makna yang lebih dalam. Intensionalitas tidak hanya terkait dengan tujuan dari tindakan manusia, tetapi juga merupakan karakter dasar dari pikiran itu sendiri. Pikiran tidak pernah pikiran itu sendiri, melainkan selalu merupakan pikiran atas sesuatu. Pikiran selalu memiliki obyek. Hal yang sama berlaku untuk kesadaran. Intensionalitas adalah keterarahan kesadaran (directedness of consciousness). Dan intensionalitas juga merupakan keterarahan tindakan, yakni tindakan yang bertujuan pada satu obyek.
Namun Husserl juga melihat beberapa pengalaman konkret manusia yang tidak mengandaikan intensionalitas, seperti ketika anda merasa mual ataupun pusing. Kedua pengalaman itu bukanlah pengalaman tentang suatu obyek yang konkret. Namun pengalaman itu sangatlah jarang, kecuali anda yang menderita penyakit tertentu. Mayoritas pengalaman manusia memiliki struktur. Mayoritas pengalaman manusia melibatkan kesadaran, dan kesadaran selalu merupakan kesadaran atas sesuatu. Husserl menyebut setiap proses kesadaran yang terarah pada sesuatu ini sebagai tindakan (act). Dan setiap tindakan manusia selalu berada di dalam kerangka kebiasaan (habits), termasuk di dalamnya gerak tubuh dan cara berpikir.
Fenomenologi adalah analisis atas esensi kesadaran sebagaimana dihayati dan dialami oleh manusia, dan dilihat dengan menggunakan sudut pandang orang pertama. Fenomenologi menganalisis struktur dari persepsi, imajinasi, penilaian, emosi, evaluasi, dan pengalaman orang lain yang terarah pada sesuatu obyek di luar. Dengan demikian menurut Smith, fenomenologi Husserl adalah suatu penyelidikan terhadap relasi antara kesadaran dengan obyek di dunia luar, serta apa makna dari relasi itu. Konsep bahwa kesadaran selalu terarah pada sesuatu merupakan konsep sentral di dalam fenomenologi Husserl.[7]
3. Tiga Jenis Reduksi
Supaya dengan intuisi kita dapat menangkap hakekat obyek-obyek, maka dibutuhkan tiga reduksi. Reduksi-reduksi ini yang menyingkirkan semua hal yang mengganggu kalau kita ingin mencapai wesenschau. Reduksi pertama: menyingkirkan segala sesuatu yang subyektif. Sikap kita harus obyektif, terbuka untuk gejala-gejala yang harus “diajak bicara”. Dua: menyingkirkan seluruh pengetahuan tentang obyek yang diselidiki dan diperoleh dari sumber lain. Tiga: menyingkirkan seluruh reduksi pengetahuan. Segala sesuatu yang sudah dikatakan oleh orang lain harus, untuk sementara dilupakan. Kalau reduksi-reduksi ini berhasil, gejala sendiri dapat memperlihatkan diri, menjadi fenomena.[8]
D. Kontribusi Fenomenologi Terhadap Dunia Ilmu Pengetahuan
Memperbincangkan fenomenologi tidak bisa ditinggalkan pembicaraan mengenai konsep Lebenswelt (“dunia kehidupan”). Konsep ini penting artinya, sebagai usaha memperluas konteks ilmu pengetahuan atau membuka jalur metodologi baru bagi ilmu-ilmu sosial serta untuk menyelamatkan subjek pengetahuan.
Edmund Husserl, dalam karyanya, The Crisis of European Science and Transcendental Phenomenology, menyatakan bahwa konsep “dunia kehidupan” (lebenswelt) merupakan konsep yang dapat menjadi dasar bagi (mengatasi) ilmu pengetahuan yang tengah mengalami krisis akibat pola pikir positivistik dan saintistik, yang pada prinsipnya memandang semesta sebagai sesuatu yang teratur – mekanis seperti halnya kerja mekanis jam. Akibatnya adalah terjadinya 'matematisasi alam' di mana alam dipahami sebagai keteraturan (angka-angka). Pendekatan ini telah mendehumanisasi pengalaman manusia karena para saintis telah menerjemahkan pengalaman manusia ke formula-formula impersonal.
Dunia kehidupan dalam pengertian Husserl bisa dipahami kurang lebih dunia sebagaimana manusia menghayati dalam spontanitasnya, sebagai basis tindakan komunikasi antar subjek. Dunia kehidupan ini adalah unsur-unsur sehari-hari yang membentuk kenyataan seseorang, yakni unsur dunia sehari-hari yang ia alami dan jalani, sebelum ia meneorikannya atau merefleksikannya secara filosofis.
Konsep dunia kehidupan ini dapat memberikan inspirasi yang sangat kaya kepada ilmu-ilmu sosial, karena ilmu-ilmu ini menafsirkan suatu dunia, yaitu dunia sosial. Dunia kehidupan sosial ini tak dapat diketahui begitu saja lewat observasi seperti dalam eksperimen ilmu-ilmu alam, melainkan terutama melalui pemahaman (verstehen ). Apa yang ingin ditemukan dalam dunia sosial adalah makna, bukan kausalitas yang niscaya. Tujuan ilmuwan sosial mendekati wilayah observasinya adalah memahami makna. Seorang ilmuwan sosial, dalam hal ini, tidak lebih tahu dari pada para pelaku dalam dunia sosial itu. Oleh karena itu, dengan cara tertentu ia harus masuk ke dalam dunia kehidupan yang unsur-unsurnya ingin ia jelaskan itu. Untuk dapat menjelaskan, ia harus memahaminya. Untuk memahaminya, ia harus dapat berpartisipasi ke dalam proses yang menghasilkan dunia kehidupan itu.
Kontribusi dan tugas fenomenologi dalam hal ini adalah deskripsi atas sejarah lebenswelt (dunia kehidupan) tersebut untuk menemukan ‘endapan makna’ yang merekonstruksi kenyataan sehari-hari. Maka meskipun pemahanan terhadap makna dilihat dari sudut intensionalitas (kesadaran) individu, namun ‘akurasi’ kebenarannya sangat ditentukan oleh aspek intersubjektif. Dalam arti, sejauh mana ‘endapan makna’ yang detemukan itu benar-benar di rekonstruksi dari dunia kehidupan sosial, dimana banyak subjek sama-sama terlibat dan menghayati.
Demikianlah, dunia kehidupan sosial merupakan sumbangan dari fenomenologi, yang menempatkan fenomena sosial sebagai sistem simbol yang harus dipahami dalam kerangka konteks sosio-kultur yang membangunnya. Ini artinya unsur subjek dilihat sebagai bagian tak terpisahkan dari proses terciptanya suatu ilmu pengetahuan sekaligus mendapatkan dukungan metodologisnya.
E. Kritik Terhadap Fenomenologi
Sebagai suatu metode keilmuan, fenomenologi dapat mendeskripsikan fenomena sebagaimana adanya dengan tidak memanipulasi data. Aneka macam teori dan pandangan yang pernah kita terima sebelumnya dalam kehidupan sehari-hari, baik dari adat, agama, ataupun ilmu pengetahuan dikesampingkan untuk mengungkap pengetahuan atau kebenaran yang benar-benar objektif.
Selain itu, fenomenologi memandang objek kajiannya sebagai kebulatan yang utuh, tidak terpisah dari objek lainnya. Dengan demikian fenomenologi menuntut pendekatan yang holistik, bukan pendekatan partial, sehingga diperoleh pemahaman yang utuh mengenai objek yang diamati. Hal ini menjadi suatu kelebihan pendekatan fenomenologi, sehingga banyak dipakai oleh ilmuwan-ilmuwan dewasa ini, terutama ilmuwan sosial, dalam berbagai kajian keilmuan mereka termasuk bidang kajian agama.
Di balik kelebihan-kelebihannya, fenomenologi sebenarnya juga tidak luput dari berbagai kelemahan. Tujuan fenomenologi untuk mendapatkan pengetahuan yang murni objektif tanpa ada pengaruh berbagai pandangan sebelumnya, baik dari adat, agama, ataupun ilmu pengetahuan, merupakan sesuatu yang absurd. Sebab fenomenologi sendiri mengakui bahwa ilmu pengetahuan yang diperoleh tidak bebas nilai (value-free), tetapi bermuatan nilai (value-bound). Hal ini dipertegas oleh Derrida, yang menyatakan bahwa tidak ada penelitian yang tidak mempertimbangkan implikasi filosofis status pengetahuan. Kita tidak dapat lagi menegaskan objektivitas atau penelitian bebas nilai, tetapi harus sepenuhnya mengaku sebagai hal yang ditafsirkan secara subjektif dan oleh karenanya status seluruh pengetahuan adalah sementara dan relatif. Sebagai akibatnya, tujuan penelitian fenomenologis tidak pernah dapat terwujud.
Selanjutnya, fenomenologi memberikan peran terhadap subjek untuk ikut terlibat dalam objek yang diamati, sehingga jarak antara subjek dan objek yang diamati kabur atau tidak jelas. Dengan demikian, pengetahuan atau kebenaran yang dihasilkan cenderung subjektif, yang hanya berlaku pada kasus tertentu, situasi dan kondisi tertentu, serta dalam waktu tertentu. Dengan ungkapan lain, pengetahuan atau kebenaran yang dihasilkan tidak dapat digeneralisasi.[9]
III. PENUTUP
Dari pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa fenomenologi merupakan suatu metode analisa juga sebagai aliran filsafat, yang berusaha memahami realitas sebagaimana adanya dalam kemurniannya. Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, fenomenologi telah memberikan kontribusi yang berharga bagi dunia ilmu pengetahuan. Ia telah mengatasi krisis metodologi ilmu pengetahuan, dengan mengembalikan peran subjek yang selama ini dikesampingkan oleh paradigma positivistik – saintistik.
Setiap tindakan manusia selalu melibatkan kesadaran, dan kesadaran selalu merupakan kesadaran atas suatu obyek yang nyata di dunia. Manusia adalah subyek dan subyek selalu terarah pada suatu obyek yang nyata di dunia. Obyek dari kesadaran dan tindakan manusia tidak pernah berada di dalam ruang kosong, melainkan selalu berada di dalam horison makna tertentu. Maka dari itu intensionalitas kesadaran selalu melibatkan relasi rumit antara subyek (manusia) yang sadar, tindakan, obyek, dan horison dari obyek tersebut. Relasi rumit di dalam intensionalitas kesadaran itulah yang menjadi dasar dari fenomenologi.
Setelah menjadikan intensionalitas kesadaran sebagai dasar filsafatnya, Husserl kemudia menganalisis struktur-struktur dasar kesadaran secara detil, seperti persepsi, penilaian, tindakan, ruang, waktu, tubuh, keberadaan orang lain, dan sebagainya. Subyek (manusia) dan obyek selalu berada di dalam horison makna tertentu yang disebut Husserl sebagai dunia kehidupan (life-world). Secara singkat dunia kehidupan adalah dunia di sekeliling manusia yang dialaminya secara familiar di dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam dunia kehidupan, manusia memperoleh makna dan identitasnya sebagai manusia. Dalam arti ini fenomenologi adalah suatu upaya untuk memahami kesadaran manusia dalam konteks kaitan dengan dunia kehidupannya.
Fenomenologi Husserl hendak menganalisis dunia kehidupan manusia sebagaimana ia mengalaminya secara subyektif maupun intersubyektif dengan manusia lainnya. Sebenarnya ia membedakan antara apa yang subyektif, intersubyektif, dan yang obyektif. Yang subyektif adalah pengalaman pribadi kita sebagai manusia yang menjalani kehidupan. Obyektif adalah dunia di sekitar kita yang sifatnya permanen di dalam ruang dan waktu. Dan intersubyektitas adalah pandangan dunia semua orang yang terlibat di dalam aktivitas sosial di dalam dunia kehidupan.[10] Interaksi antara dunia subyektif, dunia obyektif, dan dunia intersubyektif inilah yang menjadi kajian fenomenologi. Fenomenologi membuka kesadaran baru di dalam metode penelitian filsafat dan ilmu-ilmu sosial. Kesadaran bahwa manusia selalu terarah pada dunia, dan keterarahan ini melibatkan suatu horison makna yang disebut sebagai dunia kehidupan. Di dalam konteks itulah pemahaman tentang manusia dan kesadaran bisa ditemukan
DAFTAR PUSTAKA
David Woodruff Smith, Husserl, London, Routledge, 2007
Gahral Adian, Donny, Percik Pemikiran Kontemporer: Sebuah Pengantar Komprehensif, Yogyakarta: Jalasutra, 2005
Hamersma, Harry, Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern, jakarta: Gramedia, 1983
Http://jurnalstudi.blogspot.com/2009/03/pemikiran-fenomenologi-menurut-edmund.html
Muslih, Muhammad, Filsafat ilmu: Kajian atas Asumsi Dasar,Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan.- Yogyakarta: Belukar, 2004
Muslih, Muhammad, Kesadaran Intuitif Plus Cahaya Ilahiyah:Husserl di Muka cermin Sahrawardi, artikel dimuat dalam Jurnal Tsaqofah, volume 4, nomor 2, R. Tsani 1429


[1] Franz Brentano adalah guru filsafat Husserl; karya filsafatnya mempengaruhi, antara lain, Edith Stein (St. Teresa Benedicta dari Salib), Eugen Fink, Max Scheler, Martin Heidegger, Jean-Paul Sartre, Emmanuel Lévinas, Rudolf Carnap, Hermann Weyl, Maurice Merleau-Ponty, dan Roman Ingarden.
[2] Harry Hamersma, Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern, jakarta: Gramedia, 1983, hlm. 114
[3] http://jurnalstudi.blogspot.com/2009/03/pemikiran-fenomenologi-menurut-edmund.html, Dikutip Pada Hari Rabu, 30 Juni 2010 @ Pukul 21.58 Wib
[4] Donny Gahral Adian, Percik Pemikiran Kontemporer: Sebuah Pengantar Komprehensif, Yogyakarta: Jalasutra, 2005, hlm. 151
[5] Muhammad Muslih, Filsafat ilmu: Kajian atas Asumsi Dasar,Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan.- Yogyakarta: Belukar, 2004. Hlm. 148
[6] Muhammad Muslih, Kesadaran Intuitif Plus Cahaya Ilahiyah:Husserl di Muka cermin Sahrawardi, artikel dimuat dalam Jurnal Tsaqofah, volume 4, nomor 2, R. Tsani 1429, hlm. 260
[7] David Woodruff Smith, Husserl, London, Routledge, 2007, hlm 193
[8] Harry Hamersma, Op.cit, hlm. 117
[9] http://jurnalstudi.blogspot.com/2009/03/pemikiran-fenomenologi-menurut-edmund.html, Dikutip Pada Hari sABTU, 3 JuLi 2010 @ Pukul 21.15 Wib
[10] David Woodruff Smith, Opcit, hlm 234



Labels : wallpapers Mobile Games car body design Hot Deal

Ati - ati....



Labels : wallpapers Mobile Games car body design Hot Deal

Sajak Terindah

Sajak Terindah


Ingin kutuliskan sajak manis
di hamparan selembar kertas
bersih nan putih
lembut dan luas.........
tak tahu harus mulai dari mana
Kau tandai selembar kertas dengan garis
pembatas agar tulisanku rapi
Engkau siapkan tinta supaya kualirkan
di atasnya dengan penuh hati-hati,
betapa asyik pena aku jalankan
ejaan tanpa aturan
kalimat tanpa uraian
huruf-huruf berantakan
tak karuan
InDah........?!!
aku tak tahu
terlihat garis-garis itu
namun,
Sebenarnya........
ingin kubuat garis baru
tak jarang garis-garis itu aku buat
setelah pena cukup jauh melaju.
...........
Ampunkan aku...
Tuhan.




ahnafuddin
Juli 21, 2008



Labels : wallpapers Mobile Games car body design Hot Deal

Kang Sejo Melihat Tuhan

NAIK MERCY URO-URO

Benarkah sejarah Jawa itu sejarahnya orang-orang yang kalah?
Dan benarkah bahwa karena itu filsafat Jawa juga cermin
sikap hidup orang yang kalah?

Bahwa filsafat Jawa mengagungkan ide dan merendahkan materi,
memang tampak jelas. Dalam berbagai hal pandangan hidup Jawa
bahkan bersifat anti-materi. Orang Jawa lebih cenderung
mencanggih-canggihkan tata krama dan kehalusan. Kepriayian
dan kebudayaan adiluhung menjadi semacam kebanggaan, mungkin
tujuan.

Maka, orang Jawa menyebut sesama Jawa yang bersikap kasar
dengan ora njawani (tidak bersikap Jawa) atau bahkan durung
Jowo (belum menjadi Jawa) karena cuma yang halus dan
luhurlah yang diakui sebagai wis Jowo (sudah Jawa).
Diam-diam, orang Jawa yang pandai membungkuk itu suka merasa
paling unggul.

Adanya dikotomi tanah Jawa-tanah sabrang (seberang) dalam
hidup orang Jawa juga berangkat dari rasa unggul (secara
kultural) semacam itu. Tapi orang "seberang" bahkan orang
bule sekalipun, kalau ia halus, oleh orang Jawa disebut
sebagai "Jawa". Seolah-olah hanya orang Jawa yang punya
kehalusan. Seorang teman saya bahkan tidak malu-malu
menyebut bule yang sarungan saja sebagai bule yang njawani.

Cultural determinism, dalam antropologi, dulu dianggap
produk Eropa dan gambaran keangkuhan bule Eropa. Orang lupa
bahwa determinisme kultural ada juga di Jawa. Tapi, benarkah
bahwa rasa unggul pada orang Jawa itu pada dasarnya
merupakan ungkapan kegetiran mereka akibat kekalahan
terus-menerus secara politik, ekonomi, dan militer dalam
menghadapi agresi Barat? Benarkah orang Jawa menggunakan
kebudayaan sebagai selubung yang menyembunyikan muka dari
rasa malu menjadi pihak yang kalah melulu?

Dalam hidup sehari-hari terasa bahwa orang yang mengejar
materi dianggap ngoyo uripe (memaksa diri dalam hidup),
sesuatu yang bukan Jawa. Hidup Jawa ialah tenteram dan
harmoni dalam konotasi batin, karena di sana tersirat bahwa
materi tak bisa membawa ketenteraman. Tak mengherankan bila
orang lebih memilih ora mangan waton ngumpul (tidak makan
asal kumpul).

Ungkapan numpak Mercy mbrebes mili, mikul dhawet uro-uro
(orang kaya naik Mercy berurai air mata, tukang cendol
nyanyi bahagia) merupakan simbol pemujaan ide dan penolakan
materi tadi.

Dalam dunia Islam, gambaran orang tentang sufi selalu
merujuk pada kesederhanaan dan penolakan terhadap dunia. Max
Weber bahkan menganggap agama-agama Timur, termasuk Islam,
tidak memiliki "asketisme duniawi" seperti Protestan yang
melahirkan kapitalisme modern itu, karena asketisme
agama-agama Timur bersifat mistis, "lari" dari dunia dan
mengejar hidup akhirat semata

Ironisnya, seperti pernah ditulis Goenawan Mohamad, mereka
yang "emoh" dunia ini ternyata selalu hidup dari dana yang
dihimpun untuk mereka. Dus, hidup dari sumbangan umat.

Di berbagai daerah ada kiai yang dikenal sebagai sufi tetapi
hidup keduniaannya mentereng. Rumahnya mewah, pakaiannya
necis, mobilnya bukan Kijang, melainkan Mercy: gambaran sufi
yang tidak lazim, yang melawan "stigma" yang sah itu.

Seorang teman dari LIPI, Bisri Effendy, pernah bercerita
tentang kiai di Jawa Timur yang marah pada santri-santrinya.
Suatu hari, para santri hendak ke pasar. Mereka sarungan,
memakai teklek, berkaus ala kadarnya, dan berpeci butut. Di
pintu gerbang pesantren mereka bertemu sang kiai, yang
segera mendamprat mereka dari dalam Mercy yang licin mulus
itu.

"Kamu kira kalau sudah menggembel begitu mesti masuk surga?
Hidupmu itu belum tentu, tahu? Kalau mau hebat, hidup yang
mentereng di dunia dan mati masuk surga. Jangan kamu balik
duniamu sudah pating slawir (kocar-kacir), status akhiratmu
masih ngambang."

Pikiran romo kiai ini jelas subversif; menjungkirbalikkan
pandangan Jawa tadi. Ia tidak mau "naik Mercy mbrebes mili".
Edan, po?, ia pun menolak mikul dhawet, meskipun uro-uro.
Mana ada kiai mikul dhawet? Ia memilih yang terbaik, yang
musykil dalam pandangan Jawa: yakni numpak (naik) Mercy tur
(dan, lagi pula) uro-uro.

Sikapnya memilih hidup mulia di dunia dan mati berharap
masuk surga, tidak berangkat dari "hedonisme" kawula muda
yang bicara tentang "mumpung muda foya-foya, tua harus kaya
raya, dan mati masuk surga". Pilihan sikap hidup Pak Kiai
ini serius. Ia bertolak dari dasar-dasar ajaran mulia.

Sufi yang mewah ini, dengan kata lain, tidak terkena
"najis". Kesufiannya tidak "batal". Kementerengannya dengan
harta dunia dan Mercy itu, sepanjang tak membuat dia lupa
pada yang paling esensial, Tuhan, tak mengapa. Duit, rumah
mewah, dan Mercy semuanya dipahami hanya sebagai alat. Dan
bukankah sufi dihalalkan juga menggunakan alat semacam itu?

Sufi seperti ini kalibernya menyumbang, bukan hidup dari
sumbangan. Ia mereguk kemewahan dunia tapi tak terpenjara
olehnya. Ia hidup dengan asketisme duniawi, bukan asketisme
mistis, yang lari dari dunia itu, ia tidak mempertentangkan
ide dan materi.

Sebaliknya, keduanya didamaikan, dibuat "manunggal" sebagai
sarana menuju takwa dan penyerahan diri yang lebih komplet,
lebih total. Baginya, perjalanan menuju Tuhan memerlukan
juga duit agar lebih khusyuk.

Umumnya, orang dekat pada Tuhan ketika dalam kesulitan.
Dalam keadaan senang, Tuhan sering ditinggalkan. Kiai kita
ini lain. Maka, barangkali, di sini jawaban mengapa
pandangan hidup Jawa mengutamakan ide dan menolak materi
ditemukan: orang Jawa memilih mikul dhawet uro-uro dan takut
numpak Mercy mbrebes mili karena naik Mercy memang lebih
besar godaannya. Jadi, hanya kiai besar dengan "kantong"
iman yang tebal yang bisa naik Mercy sambil uro-uro.

---------------
Mohammad Sobary, Tempo 21 Maret 1992



Labels : wallpapers Mobile Games car body design Hot Deal

FILSAFAT ABAD KE-19; Aliran Idealisme




I. PENDAHULUAN
Ajaran filsafat adalah hasil pemikiran sesorang atau beberapa ahli filsafat tentang sesuatu secara fundamental. Dalam memecahkan suatu masalah terdapat pebedaan di dalam penggunaan cara pendekatan, hal ini melahirkan kesimpulan-kesimpulan yang berbeda pula, walaupun masalah yang dihadapi sama. Perbedaan ini dapat disebabkan pula oleh factor-faktor lain seperti latar belakang pribadi para ahli tersebut, pengaruh zaman, kondisi dan alam pikiran manusia di suatu tempat.
Dalam filsafat ada beberapa aliran salah satunya adalah aliran idealisme. Plato adalah generasi awal yang telah membangun prinsip-prinsip filosofi aliran idealis. George WE Hegel kemudian merumuskan aliran idealisme ini secara komprehensif ditinjau secara filosofi maupun sejarah. Tokoh-tokoh lain yang juga mendukung aliran idealisme antara lain Immanuel Kant, George Berkeley, Fichte, Hegel dan Schelling.
II. PEMBAHASAN
A. Definisi Aliran Idealisme
Menurut sebuah kamus filsafat, idealisme adalah aliran filsafat yang berpendapat bahwa objek pengetahuan yang sebenarnya adalah ide (idea); bahwa ide-ide ada sebelum keberadaan sesuatu yang lain; bahwa ide-ide merupakan dasar dari ke-ada-an sesuatu.[1] Dalam kamus lain dijelaskan bahwa idealisme adalah sistem atau doktrin yang dasar penafsirannya yang fundamental adalah ideal. Berlawanan dengan materialisme yang menekankan ruang, sensibilitas, fakta, dan hal yang bersifat mekanistik, idealisme menekankan supra-ruang, non-sensibilitas, penilaian, dan ideologis.[2] Dalam tataran epistemologis, idealisme berpendapat bahwa dunia eksternal hanya dapat dipahami hanya dengan merujuk pada ide-ide dan bahwa pandangan kita tentang alam eksternal selalu dimediasi oleh tindakan pikiran.[3]
Aliran Idealisme dinamakan juga dengan spiritualisme. Idealisme berarti serba cita, sedangkan spiritualisme berarti serba ruh. Idealisme berasal dari kata “idea”, yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa.
Aliran idealisme merupakan suatu aliran ilmu filsafat yang mengagungkan jiwa. Menurutnya, cita adalah gambaran asli yang semata-mata bersifat rohani dan jiwa terletak di antara gambaran asli (cita) dengan bayangan dunia yang ditangkap oleh panca indera. Pertemuan antara jiwa dan cita melahirkan suatu angan-angan yaitu dunia idea. Aliran ini memandang serta menganggap bahwa yang nyata hanyalah idea. Idea sendiri selalu tetap atau tidak mengalami perubahan serta penggeseran, yang mengalami gerak tidak dikategorikan idea.
B. Tokoh-tokoh Aliran Idealisme
1. Plato
Tokoh aliran idealisme yang pertama kali adalah Plato (427-374 SM), murid Sokrates. Plato mengemukakan bahwa jalan untuk membentuk masyarakat menjadi stabil adalah menentukan kedudukan yang pasti bagi setiap orang dan setiap kelas menurut kapasitas masing-masing dalam masyarakat sebagai keseluruhan6. Mereka yang memiliki kebajikan dan kebijaksanaan yang cukup dapat menduduki posisi yang tinggi, selanjutnya berurutan ke bawah. Misalnya, dari atas ke bawah, dimulai dari raja, filosof, perwira, prajurit sampai kepada pekerja dan budak. Yang menduduki urutan paling atas adalah mereka yang telah bertahun-tahun mengalami pendidikan dan latihan serta telah memperlihatkan sifat superioritasnya dalam melawan berbagai godaan, serta dapat menunjukkan cara hidup menurut kebenaran tertinggi.
Mengenai kebenaran tertinggi, dengan doktrin yang terkenal dengan istilah ide, Plato mengemukakan bahwa dunia ini tetap dan jenisnya satu, sedangkan ide tertinggi adalah kebaikan. Tugas ide adalah memimpin budi manusia dalam menjadi contoh bagi pengalaman. Siapa saja yang telah menguasai ide, ia akan mengetahui jalan yang pasti, sehingga dapat menggunakan sebagai alat untuk mengukur, mengklasifikasikan dan menilai segala sesuatu yang dialami sehari-hari.
2. Immanuel Kant
Immanuel Kant (1724 – 1808) merupakan salah seorang tokoh masa pencerahan. Filsafat Immanuel Kant dikenal dengan Filsafat Kritisisme, yakni aliran yang mencoba mensintesiskan secara kritis Empirisme yang dikembangkan Locke yang bermuara pada Empirisme Hume, dengan Rasionalisme dari Descartes. Kant mulai menelaah batas-batas kemampuan rasio dan juga empirisme. Menurut Kant semua pengetahuan mulai dari pengalaman, namun tidak berarti semua dari pengalaman. Obyek luar ditangkap oleh indera, tetapi rasio mengorganisasikan bahan-bahan yang diperoleh dari pengalaman tersebut. Immanuel Kant membawa pengaruh besar di Jerman dan pemikiran nya menjadi landasan bagi J. Fichte (1762-1814), F. Schelling (1775-1854) dan Hegel (1770-1831)
Kritik pada pengetahuan, sebagai sarana mencapai kesimpulan filosofis, ditekankan oleh Kant dan diterima oleh pengikutnya. Ada penekanan yang dilawankan dengan materi, yang pada akhirnya mengarah pada penegasan bahwa hanya pikiranlah yang eksis.[4]
Di dalam buku The Critique Of Pure Reason (edisi pertama, 1781) karangan terpenting Kant. Yang dimaksud Kant dalam critique adalah pembahasan kritik. Dalam pembahasannya ia hanya menunjukkan bahwa akal murni itu terbatas (pure reason). Yang dimaksudnya akal murni adalah akal bekerja secara logis, katakanlah akal yang di kepala. Ia dalam pembahansannya meletakkan akal murni itu di atas akal tidak murni; akal tidak murni itu adalah indera. Pure reson itu menghasilkan pengetahuan yang tidak melalui indera, bebas dari penginderaan. Untuk mendapatkan pengetahuan itu adalah, menurut Kant, pengetahuan yang diperoleh melalui akal murni itu kita peroleh dari watak dan struktur jiwa kita yang inheren (lihat Durant, 1959;265). Jadi, cara masuknya pengetahuan itu adalah melalui watak dan struktur jiwa yang ada pada kita.
Kita ingat John Locke; ia mengatakan bahwa seluruh pengetahuan berasal dari pengalaman (lihat solomon1981;108). Jadi, tidak ada lagi pengetahuan yang masuk lewat jalan lain. Kata Kant, pengetahuan tidak seluruhnya masuk lewat indera (Durant, 1959;265).
Menurut Kant, pengetahuan yang mutlak sebenarnya memang tidak akan ada bila seluruh pengetahuan datang melalui indera. Akan tetapi bila pengetahuan itu datang dari luar melalui akal murni, yang tidak bergantung pada pengalaman, bahkan tidak bergantung pada indera, yang kebenarannya a priori. Kant memulainya dengan mempertanyakan apakah ada yang dapat kita ketahui seandainya seluruh benda dan indera dibuang. Seandainya tidak ada benda dan tidak ada alat pengindiera, apakah ada sesuatu yang dapat kita ketahui?.
Menurut buku Criticue, pengalaman tidak lain adalah lapangan yang menghasilkan pengetahuan. Pengalaman mengatakan kepada kita apa-nya, bukan apa ia sesungguhnya. Jadi, pengalaman tidak tidak menunjukkan hakekat objek yang dialami. Oleh karena itu, pengalaman tidak dapat menghasilkan kebenaran umum.
Di sini Kant mulai memperlihatkan apa yang diperjuangkannya; kebenaran umum harus bebas dari pengalaman, harus jelas dan pasti dengan sendirnya (Durant, 1959;266). Maksudnya, pngetahuan yang umun, kebenaran yang umum, itu tetap benar, tidak peduli apa pengalaman kita tentang kemudian. Bahkan kebenaran umum itu benar sekalipun belum dialami. Inilah kebenaran yang a priori.[5]
Di dalam buku The Critique Of Pure Reason (edisi pertama, 1781) karangan terpenting Kant, tujuan karya ini adalah untuk membuktikan bahwa, kendati pengetahuan kita tak satupun yang mampu melampaui pengalaman. Menurutnya, bagian pengetahuan kita yang a priori (atau teoritik) tidak hanya meliputi logika, namun juga banyak hal yang tidak dimasukkan ke dalam logika atau disimpulkan darinya.
Ada empat argumen metafisis mengenai ruang waktu.
1) Ruang bukanlah empirik, yang diabstrakkan dari pengalaman luar, karena ruang dimisalkan keberadaannya dengan merujuk pada sesuatu yang ekternal, dan pengalaman eksternal hanya dimungkinkan melalui kehadiran ruang.
2) Ruang merupkan kehadiran a priori mutlak, yang mendasari semua persepsi eksternal; karena kita tidak dapat membayangkan tentang ketiadaan ruang, kendati kita dapat membayangkan bahwa dalam ruang itu tidak ada apa pun.
3) Ruang tidaklah diskursif dan bukan konsep umum mengenai hubungan benda secara umum, Karena yang ada hanyalah satu ruang, sedangkan yang biasa kita sebut “ruangan” hanyalah bagian-bagiannya, bukan keutuhannya.
4) Ruang tersaji sebagai ukuran besar yang tak terhingga, yang melingkupi seluruh bagian ruang.
Argument transcendental mengenai ruang berasal dari geometri. Kant berpendapat bahwa geometri Euclidan di kenal a priori, kendati ia bersifat sintesis, yakni tidak bisa ditarik dari logika semata. Bukti geometri, menurutnya, bergantung pada angka; kita dapat melihat, misalnya. Bahwa, jika dua garis lurus berpotongan pada sudut kanan, maka hanya garis lurus pada sudut kanan menuju keduanya yang bisa ditarik melalui titik perpotongannya.[6]
3. Johann Gottlieb Fichte
Johann Gottlieb Fichte adalah filosuf Jerman. Ia belajar teologi di Jena pada tahun 1780-1788 M. Berkenalan dengan filsafat Kant di Leipzig 1790 M. Berkelana ke Konigsberg untuk menemui Kant dan menulis Critique of Relevation pada zaman Kant. Buku itu dipersembahkannya kepada Kant. Pada tahun 1810-1812 M ia menjadi rektor Universitas Berlin.
Johann Gottlieb Fichte (1762 –1814) merupakan filosof yang mengembangkan beberapa pemikiran dari Immanuel Kant. Menurut Fichte Fakta dasar dalam alam semesta adalah ego yang bebas atau roh yang bebas. Dengan demikian dunia merupakan ciptaan roh yang bebas.
Filsafatnya disebut Wissenschaftslehre (ajaran ilmu pengetahuan). Dengan melalui metoda deduktif fichte mencoba menerangkan hubungan Aku (Ego) dengan adanya benda-benda (non-Ego). Karena Ego berpikir, mengiakan diri maka terlahirlah non-Ego (benda-benda). Dengan secara dialektif (berpikir dengan metoda : tese, anti tese, sintese) Fichte mencoba menjelaskan adanya benda-benda.
Secara sederhana dialektika Fichte itu dapat diterangkan sebagai berikut: manusia memandang obyek benda-benda dengan inderanya. Dalam mengindera obyek tersebut, manusia berusaha mengetahui yang dihadapinya. Maka berjalanlah proses intelektualnya untuk membentuk dan mengabstraksikan obyek itu menjadi pengertian seperti yang dipikirannya.
Fichter menganjurkan supaya kita memenuhi tugas, dan hanya demi tugas. Tugaslah yang menjadi pendorong moral. Isi hukum moral ialah berbuatlah menurut kata hatimu. Bagi seorang idealis, hukum moral ialah setiap tindakan harus berupa langkah menuju kesempurnaan spiritual.
4. Friedrich Wilhelm Joseph Schelling
Friedrich Wilhelm Joseph Schelling (1775-1854) Juga merupakan filosof yang menganut aliran idealisme. Pemikiran Schelling tampak pada teorinya tentang yang mutlak mengenai alam. Pada dirinya yang mutlak adalah suatu kegiatan pengenalan yang terjadi terus-menerus yang bersifat kekal.
Friedrich Wilhem Joseph Schelling telah mencapai kematangan sebagai filosuf pada waktu itu ia masih amat muda. Pada tahun 1798 M, ketika usianya baru 23 tahun, ia telah menjadi guru besar di Universitas Jena. Sampai akhir hidupnya pemikirannya selalu berkembang.
Namun, continuitasnya tetap ada. Dia adalah filosuf idealis Jerman yang telah meletakkan dasar-dasar pemikiran bagi perkembangan idealisme Hegel. Ia pernah menjadi kawan Fichte. Bersama Fichte dan Hegel, Schelling adalah idealis Jerman yang terbesar. Pemikirannya pun merupakan mata rantai antara Fichte dan Hegel.
Fichte memandang alam semesta sebagai lapangan tugas manusia dan sebagai basis kebebasan moral, Schelling membahas realitas lebih obyektif dan menyiapkan jalan bagi idealisme absolut Hegel. Dalam pandang Schelling, realitas adalah identiik dengan gerakan pemikiran yang berevolusi secara dialektis.
Pada Schelling, juga pada Hegel, realitas adalah proses rasional evolusi dunia menuju realisasi berupa suatu ekspresi kebenaran terakhir. Tujuan proses itu adalah suatu keadaan kesadaran diri yang sempurna.
Schelling menyebut proses ini identitas absolut, Hegel menyebutkan ideal. Alam semesta ini, katanya tidak pernah dibayangkan sebagai sistem raisional. Di sini ia memperlihatkan bahwa susunan rasional adalah kontruks hipotesis yang memerlukan pembuktian nyata, baik pada alam maupun pada sejarah.
Reese (1980:511) menyatakan bahwa filsafat Schelling berkembang melalui lima tahap:
1. Idealisme subyektif
2. Filsafat alam
3. Idealisme transcendental atau idealisme obyektif
4. Filsafat identitas
5. Filsafat positif
Dalam filsafatnya ia mengatakan, jikalau kita memikirkan pengetahuan kita (obyek pemikiran) Tentang manusia dan alam, Schelling menggambarkan bahwa ketika orang mengadakan penyelidikan ilmiah tentang alam, subyektif (jiwa, roh) mengajukan pertanyaan pada alam, sedangkan alam dipaksa untuk memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu.
Bahwa alam dapat menjawab pertanyaan itu, ini berarti bahwa alam itu sendiri bersifat akal atau idea. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa alam tidak lain adalah roh/jiwa yang tampak, sedang roh adalah alam yang tak tapak.
Pandangam Schelling tentang alam diperkuat dengan teorinya tentang Aku Yang Mutlak. Bahwa aku mutlak mengobyektifkan dirinya dalam alam yang ideal, jadi alam sebagai yang diciptakan merupakan penampakan dari alam yang menciptakan.
Filasafat Schelling dapat diringkaskan sebagai berikut ini: Bahwa Yang Mutlak atau Rasio Mutlak adalah sebagai identitas murni atau indiferensi, dalam arti tidak mengenal perbedaan antara yang subyektif dengan yang obyektif.
Dengan mengikuti logika-tiga Fichte (tesis-anti tesis sintesis), ia menerapkannya pada alam dan pada sejarah. Dari sini Schelling membangun tiga tahap sejarah:
a. Masa Primitif yang ditandai oleh dominasi nasib
b. Masa Romawi yang ditandai oleh reaksi aktif manusia terhadap nasib, ini masih berlangsung hingga sekarang, dan
c. Masa datang yang akan merupakan sintesis dua masa itu yang akan terjadi secara seimbang dalam kehidupan; disana yang aktual yang ideal akan bersintesis.
5. Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831)
Georg Wilhelm Friedrich Hegel dikenal sebagai filosof yang menggunakan dialektika sebagai metode berfilsafat. Dialektika menurut Hegel adalah dua hal yang dipertentangkan lalu didamaikan, atau biasa dikenal dengan tesis (pengiyaan), antitesis (pengingkaran) dan sintesis (kesatuan kontradiksi). Pengiyaan harus berupa konsep pengertian yang empiris indrawi.
Menurut hegel yang mutlak adalah roh yang mengungkapkan diri di dalam alam, dengan maksud agar dapat sadar akan dirinya sendiri. Hakikat roh adalah ide atau pikiran. Pernyataan Hegel yang terkenal adalah semuanya yang real bersifat rasional dan semuanya yang rasional bersifat real. Maksudnya adalah bahwa luasnya rasio sama dengan luasnya realitas.
Hegel Mengelompokkan idealisme menjadi tiga bagian yaitu :
1) Filsafat idealisme Subyektif, yakni idealisme yang berpangkal kepada subyek.
2) Filsafat idealisme obyektif, yakni idealisme yang memandang bahwa ego berada di dalam alam, dan alam berada di dalam ego
3) Filsafat idealisme mutlak adalah idealismeyang merupakan sintese dari idelaisme subyektif dan idealisme obyektif.[7]
Idealisme Absolut Hegel
Dari perspektif umum sejarah filsafat, filsafat Hegel adalah usaha untuk merehabilitasi metafisika usai dikotomi Kantian yang memisahkan antara noumena dan fenomena. Ia berusaha untuk mengetahui yang absolut dan tak terbatas melalui nalar murni. Hegel, dalam bukunya Encyclopedia of Philosophical Science, memosisikan filsafatnya sebagai respon terhadap tiga tren filosofis: rasionalisme metafisika kuno, filsafat kritis Kant, dan filsafat emosi Jacobi. Dia menyatakan bahwa sementara rasionalisme kuno tepat dalam mempostulasikan pengetahuan rasional tentang yang mutlak, ia tidak memiliki metodologi dialektika yang tepat untuk mencapai pengetahuan itu dan terjebak model pembuktian deduktif kuno. Sedangkan Kant, sekalipun tepat dalam kritiknya terhadap model pembuktian ini, mengambil kesimpulan terlalu jauh sehingga dia menyimpulkan ketidakmungkinan pengetahuan rasional apapun tentang yang mutlak. Di sisi lain, penentangan Jacobi dan para filosof Romantik terhadap pembatasan Kantian terhadap pengetahuan adalah tepat, akan tetapi solusi mereka—dengan semata-mata bergantung kepada intuisi dan perasaan estetika atau relijius—tidak dapat diterima. Dengan mengafirmasi pengetahuan rasional tentang yang absolut, mengeyampingkan model pembuktian kuno, dan tidak menjadikan intuisi sebagai sarana mencapai pengetahuan absolut, Hegel menawarkan solusinya sendiri yang disebut dialektika.
Menurut Hegel, berkebalikan dari kaum empiris, konsep lebih penting daripada objek dan ide-ide mental. Idealisme Hegel bersifat metafisik, hal ini terlihat dari tesis dasarnya yang menyatakan bahwa segala sesuatu dalam alam dan sejarah adalah manifestasi dari ide absolut. Ide di sini tidak dipahami sebagai sesuatu yang berada dalam pikiran manusia. Tentang idealisme dalam filsafat, Hegel menulis ”Idealisme dalam filsafat tidak lain adalah pengakuan bahwa yang terbatas tidaklah memiliki eksistensi yang sebenarnya.”
Bagi Hegel yang terbatas adalah sesuatu yang berhenti meng-ada (ceases to be). Dengan demikian, idealisme bagi Hegel tidak hanya terbatas pada objek persepsi saja, sebagai dipahami pendahulunya, tapi mencakup semua yang terbatas. Dia menyimpulkan bahwa wujud yang terbatas adalah wujud yang tergantung dan, karenanya, tidak sepenuhnya nyata. Wujud yang terbatas bergantung kepada yang tak terbatas yang oleh Hegel disebut idea. Dia menulis ”Setiap wujud individual merupakan satu aspek dari idea….Wujud individu dalam dirinya sendiri tidaklah bersesuaian dengan konsep. Limitasi itulah yang kemudian mewujud dalam keterbatasan dan kehancuran individu tersebut”. Yang terbatas, menurut idealisme Hegel, bergantung secara eksistensial ontologis kepada idea. Konsepsi idea sebagai gantungan ontologis segala yang terbatas mengasumsikan bahwa realitas pada dasarnya bersifat konseptual, yakni diatur atas konsep tertentu. Yang sebenarnya eksis, menurut Hegel, adalah keseluruhan (the whole), yang dia sebut idea. Dia menyatakan bahwa ”Yang Sejati adalah keseluruhan. Tapi keseluruhan tidak lain merupakan esensi yang mewujud-sempurnakan dirinya melalui perkembangan”.
Ide absolut yang menjadi gantungan segala sesuatu dipahami oleh Hegel secara teleologis, yakni bahwa ia adalah tujuan tunggal—yang mewujudkan dan mengatur dirinya sendiri—dari segala sesuatu. Bahwa segala sesuat hanya merupakan manifestasi dari ide absolut ini berarti bahwa segala sesuatu bergerak dan meng-ada untuk tujuan tunggal tersebut. Ada tiga hal yang mendasari tesis Hegel ini. Yang pertama adalah monisme yang menyatakan bahwa semesta tidak terdiri dari substansi yang beragam dan jamak, alih-alih, ia menyatakan bahwa semesta hanya terdiri dari substansi tunggal. Bagi Hegel, hal-hal yang bersifat fisik dan mental hanyalah penampakan dari substansi universal yang tunggal. Monisme Hegel tidak berarti bahwa realitas adalah ke-satu-an yang murni; ketunggalan yang tidak terbedakan tanpa perbedaan dalam dirinya sendiri. Idealisme absolute, bagi Hegel, haruslah mampu menjelaskan kenyataan keragaman benda-benda.
Hal kedua yang mendasari tesis Hegel adalah organisisme yang menyatakan bahwa realitas adalah keseluruhan yang hidup (living whole) or terbentuk dalam satu proses hidup tunggal. Menurutnya, proses ini mengalami tiga tahap: kesatuan yang belum sempurna (yang melahirkan identitas), diferensiasi (yang menimbulkan perbedaan), dan kesatuan dari kedua tahapan (yang mewujud dalam identitas dalam perbedaan). Ide tentang organisime ini menyiratkan perkembangan dalam idealisme absolut Hegel berarti yang idea mengaktualisasi diri. Konsep perkembangan yang secara umum dipahami dalam konteks ruang dan waktu, direkonseptualisasi oleh Hegel dengan terma logika yang didasarkan pada konsep negasi. Negasi digunakan untuk mengkonseptualisasi mekanisme perkembangan. Kerangka negasi ini yang kemudian menjadi konsep kunci yang digunakan Hegel untuk menjelaskan realitas sebagai keseluruhan yang berkembang (developing whole).
Hal ketiga adalah rasionalisme yang menyatakan bahwa proses hidup ini memiliki tujuan atau sesuai dengan idea yang dipahami bukan sebagai sesuatu yang bersifat mental atau subjektif manusiawi. Hegel memahami idea sebagai arketip yang memanifestasikan dirinya dalam yang subjektif dan objektif; mental dan material.
Dalam karya besarnya, The Encyclopedia of the Philosophical Sciences, Hegel membagi sistem filosofisnya ke dalam tiga bagian: logika, filsafat alam, dan filsafat roh. Dalam logika—bukan dalam pengertian tradisional—dia menjelaskan struktur kategorial idea yang mendasari segala yang ada. Dua bagian yang lain merupakan penjelasan dari struktur konseptual yang lebih spesifik yang mewujud dalam alam dan roh; dimana keduanya adalah area manifestasi idea.
Metode yang digunakan Hegel untuk membuktikan tesisnya tentang pengetahuan rasional tentang yang absolut adalah metode dialektika. Metode ini muncul sebagai reaksi atas pembatasan Kant atas pengetahuan hanya pada yang sensible dan pendapat Kant yang memustahilkan pengetahuan rasional murni atas yang absolut. Tidak seperti Kant yang membatasi pengetahuan pada pengalaman (phenomena), Hegel memilih untuk memahami keseluruhan yang menjadi dasar semua pengalaman. Metode dialektik yang diadopsi Hegel berbeda dengan dialektika yang dikenal sebelumnya. Karena, bagi Hegel, dialektika Plato, misalnya, tidaklah murni dialektik karena ia bermula dari proposisi yang telah diasumsikan, yang karenanya tidak bersumber dari masing-masing elemen dialektik.
Menurut Hegel, dialektik terdiri dari tiga aspek secara berurutan. Yang pertama adalah aspek abstraksi, dimana pemahaman mengasumsikan bahwa sebuah konsep adalah tidak terikat dan sepenuhnya terlepas dari hal lain. Aspek kedua adalah aspek negasi ketika pemahaman menemukan bahwa ternyata konsepnya tidaklah sepenuhnya terlepas dari yang lain, ia harus dipahami dalam kaitannya dengan hal lain. Pada titik ini, pemahaman terperangkap dalam kontradiksi; disatu sisi ia harus mengasumsikan ada yang tak terikat untuk mengakhiri rangkaian ikatan-ikatan, tapi disisi lain ia tidak bisa mengasumsikan yang tak terikat karena ia selalu menemukan batasan yang mengikatnya. Tahap ketiga adalah tahap spekulatif atau rasional yang mengakhiri kontradiksi antar dua tahapan sebelumnya dengan memandang bahwa yang tak terikat bukanlah sesuatu yang tersendiri melainkan keseluruhan dimana segala yang terbatas hanyalah bagian darinya. Dengan demikian bagi Hegel, keseluruhan mendahului bagian-bagiannya.
Dalam kaitannya dengan agama, Hegel meyakini bahwa filsafat adalah pemahaman rasional terhadap keimanan keagamaan. Sesuatu yang oleh seni dan agama dipahami pada tingkat intuisi, oleh filsafat dipahami pada tingkat yang lebih tinggi, yaitu level konsep atau pemikiran sistematis. Konsep Hegel tentang yang absolut dalam batas tertentu setara dengan konsep Tuhan dalam konsep agama tradisional. Bahkan Hegel sering merujuk pada yang absolut dengan kata Tuhan. Beberapa segi konsep Hegel juga mendukung konsep yang dikenal dalam agama tradisional, seperti konsep teleologinya yang merestorasi konsep perhatian ilahiah (providence) dalam agama Kristen. Konsep perkembangan yang dijabarkan Hegel mendukung doktrin trinitas, yang baginya sang bapa merepresentasikan momen kesatuan, sang anak momen perbedaan, dan roh kudus momen kesatuan dalam perbedaan. Tapi dalam beberapa hal yang lain, Hegel juga menolak beberapa aspek agama Kristen. Misalnya, dia menolak doktrin Tuhan transenden yang melampaui alam dan sejarah. Baginya, yang absolut tidak dapat melampaui alam dan sejarah karena ia mewujud hanya di dalam dan melalui keduanya.[8]
III. KESIMPULAN
Aliran Idealisme beranggapan bahwa hakikat kenyataan yang beraneka ragam itu semua berasal dari ruh (sukma) atau sejenis dengannya, yaitu sesuatu yang tidak berbentuk dan menempati ruang. Materi atau zat itu hanyalah suatu jenis daripenjelmaan rohani.
Alasan aliran ini menyatakan bahwa hakikat benda adalah rohani, spirit atau sebanginya adalah:
1) Nilai ruh lebih tinggi daripada badan, lebih tinggi nilainya dari materi bagi kehidupan manusia. Ruh itu dianggap sebagai hakikat yang sebenarnya. Sehingga materi hanyalah badannya, bayangan atau penjelmaan saja.
2) Manusia lebih dapat memahami dirinya daripada dunia luar dirinya
3) Materi adalah kumpulan energi yang menempati ruang. Benda tidak ada, yang ada energi itu saja.
Materi bagi aliran idealisme sebenarnya tidak ada. Segala kenyataan ini termasuk kenyataan manusia adalah sebagai ruh. Ruh itu tidak hanya menguasai manusai perorangan, tetapi juga kebudayaan. Jadi kebudayaan adalah perwujudan dari alam cita-cita dan cita-cita itu adalah rohani. Karenanya aliran ini dapat disebut aliran idealisme dan dapat dapat juga disebut aliran spiritualisme.
Prinsipnya, aliran idealisme mendasari semua yang ada. Yang nyata di alam ini hanya idea, dunia idea merupakan lapangan rohani dan bentuknya tidak sama dengan alam nyata seperti yang tampak dan tergambar.
Proses dialektika selalu terdiri atas tiga fase. Fase pertama (tesis) dihadapi (antithesis) Fase kedua, dan akhirnya timbul fase ketiga(sintesis). Dalam sintesis itu, tesis dan antithesis menghilang. Dapat juga tidak menghilang ia masih ada, tetapi sudah diangkat pada tingkat yang lebih tinggi. Proses ini berlangsung terus. Sintesis segera menjadi tesis baru, dihadapi oleh antithesis baru, dan menghasilkan sintesis baru. Dan sintesis baru ini segera pula menjadi tesis baru lagi, dan seterusnya
IV. PENUTUP
Demikian yang dapat kami sampaikan. Sedikit banyak semoga bisa menambah wawasan keilmuan kita. Kurang lebihnya mohon maaf, kritik dan saran kami harapkan dari semua pihak guna penyempurnaan makalah kami.
Wallahulmuwaffiq ila aqwamitthoriq


DAFTAR PUSTAKA
Nicholas Bunnin & Jiyuan Yu, The Blackwell Dictionary of Western Philosophy, (Oxford: Blackwell Publishing, 2004)
Wilbur Long, Idealism, dalam Dagobert D. Runes, The Dictionary of Philosophy, (New York: Philosophical Library, tt)
Bertrand Russell., Sejarah Filasalfat Barat. LTD., London, 1946
Ach. Tafsir. Filsafat Umum PT. Remaja Rosdakarya. Bandung, 2003
Http://zoel.web.id/2009/12/makalah-aliran-idealisme
Http://senaru.wordpress.com/2009/06/07/idealisme



[1] Nicholas Bunnin & Jiyuan Yu, The Blackwell Dictionary of Western Philosophy, (Oxford: Blackwell Publishing, 2004), hlm. 322
[2] Wilbur Long, Idealism, dalam Dagobert D. Runes, The Dictionary of Philosophy, (New York: Philosophical Library, tt), hlm 136
[3] Nicholas Bunnin & Jiyuan Yu, op. cit., hlm. 323
[4] Bertrand Russell., Sejarah Filasalfat Barat. LTD., London, 1946. Hal. 916
[5] Ach. Tafsir. Filsafat Umum PT. Remaja Rosdakarya. Bandung, hal. 147. Cet. I. 2003. Hal 160
[6] Bertrand Russell, Ibid, hlm 931
[7] http://zoel.web.id/2009/12/makalah-aliran-idealisme/
[8] http://senaru.wordpress.com/2009/06/07/idealisme/



Labels : wallpapers Mobile Games car body design Hot Deal
Search Terms : property home overseas properties property county mobil sedan oto blitz black pimmy ride Exotic Moge MotoGP Transportasi Mewah free-islamic-blogspot-template cute blogger template free-blog-skins-templates new-free-blogger-templates good template blogger template blogger ponsel Download template blogger Free Software Blog Free Blogger template Free Template for BLOGGER Free template sexy Free design Template theme blogspot free free classic bloggerskin download template blog car template website blog gratis daftar html template kumpulan templet Honda SUV car body design office property properties to buy properti new