-->PRAGMATISME Oleh; Muhammad Ahnafuddin, S. Fil. I
I.I. PENDAHULUAN
Pragmatisme merupakan gerakan filsafat Amerika yang mulai terkenal selama satu abad terakhir. Aliran filsafat ini merupakan suatu sikap, metode dan filsafat yang memakai akibat-akibat praktis dari pikiran dan kepercayaan sebagai ukuran untuk menetapkan nilai kebenaran. Filsafat ini berusaha bersikap kritis terhadap sistem-sistem filsafat sebelumnya.[1]
Pragmatisme merupakan salah satu dari sekian munculnya aliran filsafat yang berkembang pada abad kontemporer. Pragmatisme ini berasal dari kata ‘practic’ dan ‘practical’. Istilah ini berasal bahasa Yunani yakni dari kata pragma yang berarti action.[2] Pengertian Pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis.[3] Filsafat pragmatis ini pertama kali dikenalkan oleh Charles Pierce pada tahun 1878 melalui artikelnya yang berjudul, ‘How to make our ideas clears’.[4] Namun nama yang melekat dalam filsafat pragmatisme adalah William James. Hal ini mungkin gagasan-gagasan yang dilontarkan James mampu memberikan pengaruh yang lebih besar pada masyarakat dunia sekaligus yang memopulerkan filsafat pragmatis di Amerika Serikat.
Melihat definisi di atas tampaknya pegangan filsafat pragmatis adalah logika pengamatan. Di mana aliran ini bersedia menerima segala sesuatu, dengan syarat dapat membawa akibat yang praktis. Termasuk pengalaman-pengalaman pribadi diterima asal bermanfaat, bahkan kebenaran mistis dipandang juga. Dengan demikian landasan pragmatisme adalah manfaat bagi hidup praktis.[5]
Dalam perkembangan selanjutnya filsafat ini ternyata berjalan dalam tiga jurusan yang berbeda, maksudnya sekalipun semuanya berpangkal dari satu gagasan asal, namun bermuara dalam kesimpulan-kesimpulan yang berbeda. Tetapi pada dasarnya ketiganya itu adalah sama, yaitu menolak segala intelektualitas, absolutisme dan meremehkan logika formal.[6] Ketiga dasar tersebut nantinya akan diuraikan dalam bagian pokok-pokok ajaran dalam filsafat pragmatis.
Dalam pembahasan ini akan diuraikan mengenai; pertama, pokok-pokok ajaran pragmatisme. kedua, yaitu dua tokoh yang memopulerkan filsafat ini yaitu William James dan John Dewey dengan konsep kepercayaan atau agama. Ketiga kolaborasi pemikiran kedua tokoh tersebut serta kesimpulan.
II.II. PEMBAHASAN
A.Pokok-Pokok Ajaran Filsafat Pragmatisme
Sesuatu yang penting dalam filsafat pragmatis dan menjadi pegangan adalah logika pengamatan. Oleh karena itu aliran ini bersedia menerima segala sesuatu, asal saja membawa akibat praktis. Meskipun itu pengalaman-pengalaman yang bersifat pribadi, kebenaran mistis, semuanya dapat diterima sebagai kebenaran dan dasar tindakan, dengan syarat membawa akibat praktis yang bermanfaat. Atas dasar inilah maka patokan bagi pragmatisme adalah manfaat bagi hidup praktis.[7]Dasar-dasar yang digunakan dalam filsafat pragmatis adalah dengan menggunakan rumus sebagai berikut ; pertama menolak segala intelektualisme, kedua, absolutisme dan ketiga meremehkan logika formal.[8] Aliran pragmatis menolak intelektualisme, ini berarti juga menentang rasionalisme sebagai sebuah pretensi dan metode. Dengan demikian tidak mempunyai aturan-aturan dan doktrin-doktrin yang menerima metode. Seorang ahli pragmatis Italia bernama Papini mengatakan ; pragmatis adalah ketiadaan dalam teori pragmatis, ibarat seperti sebuah koridor dalam sebuah hotel.[9]
Dasar kedua adalah absolutisme. Pragmatisme tidak mengenal kebenaran yang bersifat mutlak, yang berlaku umum ataupun bersifat tetap bahkan yang berdiri sendiri pun tidak ada. Alasan ini disebabkan adanya pengalaman yang berjalan terus dan segala yang dianggap benar dalam perkembangan pengalaman itu senantiasa akan berubah, karena di dalam prakteknya apa yang dianggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. Oleh karena itu tidak ada kebenaran yang mutlak, kecuali yang ada adalah kebenaran-kebenaran ( dalam bentuk jamak), artinya apa yang benar dalam pengalaman-pengalaman yang khusus, yang setiap kali dapat diubah oleh pengalaman berikutnya.[10]
Pokok ajaran yang terakhir adalah meremehkan logika formal. Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa pegangan pragmatisme adalah logika pengamatan, hal ini dapat berupa pengalaman-pengalaman pribadi ataupun pengalaman mistis. Dengan demikian ini berarti bahwa pragmatisme dalam membuat suatu kesimpulan-kesimpulan tidak memiliki aturan-aturan yang tetap yang dapat dijadikan Standard atau ukuran dalam merumuskan suatu kesimpulan. Hukum kebenaran yang terus berjalan ini, maka nilai pertimbangannya adalah akal dan pemikirannya, sementara yang dijadikan sebagai tujuan adalah dalam perbuatannya atau aplikasinya. Proses yang terjadi pada akal dan pemikiran itu harus mampu menyesuaikan dengan kondisi dan situasinya. Sesungguhnya akal dan pemikiran itu menyesuaikan diri dengan tuntutan kehendak dan tuntutan perbuatan.[11]
B.William James (1842-1910)
William James dilahirkan di New York, anak dari Henry James, William James belajar ilmu kedokteran di Havard Medical School pada tahun 1864 dan mendapat M.D-nya tahun 1869, tetapi William tidak tertarik ilmu pengobatan dan menyenangi fungsi alat-alat tubuh kemudian belajar psikologi di Jerman dan Prancis pada tahun 1870. Setelah lulus James mengajar di Universitas Havard, secara berturut-turut mengajar mata kuliah Anatomi, fisiologi, psikologi dan filsafat sampai tahun 1907. Tiga tahun kemudian 1910 James meninggal dunia. Karya-karya James yang terpenting adalah the principles of psychology (1890), the will to believe (1897), Human Immortality (1898), the varietes of religious experience (1902), dan pragmatism (1907).[12]
William James seorang ahli psikologi,[13] namun James tertarik untuk mempelajari filsafat. Ketertarikannya ini didasarkan kepada dua hal yaitu ilmu pengetahuan dan agama. Seorang ilmuwan mempelajari tentang pengobatan akan memikirkannya bagaimana akibat dari hasil pengobatan itu, selanjutnya berusaha menyeleksi dengan kemampuan emosi agamanya.[14]
Pada bidang agama William James menunjukkan karyanya yang berjudul the varieties of religious experience, James mengemukakan bahwa gejala-gejala keagamaan itu berasal dari kebutuhan-kebutuhan perorangan yang tidak disadari. Pengungkapan yang dilakukan seseorang itu berlain-lainan, mungkin pada alam di bawah sadar yang dijumpai pada realitas kosmis yang lebih tinggi. Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang dapat meneguhkan hal tersebut secara mutlak. Bagi seseorang yang memiliki kepercayaan hal itu merupakan realitas kosmis yang tinggi, atau merupakan nilai kebenaran subyektif dan relatif. Ini berarti sepanjang kepercayaan itu memberikan kepada seseorang akan nilai hiburan rohani, penguatan keberanian hidup, perasaan damai, keamanan kasih sesama dan lain-lain. Sesungguhnya nilai agama/pengalaman keagamaan mempunyai nilai yang sama, apabila akibatnya sama-sama memberi kepuasan kepada kebutuhan keagamaan.[15]
Dalam mempelajari filsafat pragmatisme yang dikenalkan oleh Charles Pierce; James berusaha menginterpretasikan dengan sebutan pragmatism: A new name for some old ways of thinking 1907. Kemudian James menulisnya dalam sebuah kritikan yang ditampakkan dalam karyanya the meaning of truth (1909).[16]Dalam memahami kebenaran James mendasarkan pemikirannya pada radical empiricism. Fakta ini dibuat karena adanya pengalaman manusia yang dilakukan terus menerus.[17] Menurut James tidak ada kebenaran mutlak yang berlaku umum ataupun yang bersifat tetap bahkan yang berdiri sendiri lepas dari akal yang mengenal, Karena pengalaman manusia akan terus berjalan dan segala sesuatu yang dianggap benar, namun dalam tahap perkembangannya akan berubah. Ini disebabkan adanya koreksi dari pengalaman-pengalaman berikutnya. Kebenaran yang ada hanyalah kebenaran-kebenaran yang bersifat jamak, artinya benar pada pengalaman-pengalaman khusus akan diubah pada pengalaman berikutnya.[18]
Nilai pertimbangan dalam pragmatisme tergantung pada akibatnya yaitu kepada kerjanya, didasarkan pada keberhasilan dari perbuatan yang disiapkan oleh pertimbangan tersebut. Apabila pertimbangan itu benar, maka akan bermanfaat bagi pelakunya.[19] Oleh karena itu dalam melakukan pertimbangan harus benar-benar terseleksi agar memperoleh manfaat yang diharapkan.
Antara agama dengan filsafat pragmatis diharapkan memberikan rasa ketenangan dan kedamaian. Akibatnya ketika James tertarik kepada ilmu pengetahuan dan agama ini dimaksudkan, bahwa ketika James mempelajari studi pengobatan dengan tendensi materialisme maka berusaha mengecek dengan emosi agama (perasaan agama).[20]
Oleh karena itu James dalam mempelajari agama atau kepercayaan memberikan tiga opsi yang menjadi pilihan, yaitu : pertama ; living or died. Kedua, forced or avoidable dan ketiga momentous or trivial.[21] Opsi yang ditawarkan ini mencoba memberikan sebuah makna kehidupan ini bahwa menjalankan atau mengerjakan sesuatu harus senantiasa memberikan rasa ketenangan. Kenyataan hidup harus dijalani dan dihadapi dengan gigih serta dapat mengambil manfaat terutama bagi dirinya. Karena manusia selamanya tidak akan hidup terus tetapi suatu saat akan menghadapi kematian.
C.John Dewey (1859-1952)
John Dewey lahir di Baltimor, ia salah satu dari generasi pragmatisme yang menghasilkan pemikiran yang hebat setelah James. Dewey menjadi guru besar dalam bidang filsafat dan bidang pendidikan di Chicago (1894-1904) dan akhirnya di Universitas Colombia (1904- 1929).[22]
Bagi John Dewey filsafat bertujuan untuk memperbaiki kehidupan manusia serta lingkungannya atau untuk mengatur kehidupan manusia serta aktivitasnya dalam memenuhi kebutuhan manusiawi. Oleh karena itu tidak heran jika John Dewey disebut sebagai tokoh filsafat yang mempunyai karakter yang dinamis yang diwarisi oleh Hegel, yaitu faham dualisme yang berlebih-lebihan seperti antara between mind and body : between necessary and contingent propositions, between cause and effect, between secular and transcendent, namun Dewey lebih suka membuat pandangan baru dengan memperkaya teori-teori dan memahami sebuah fungsi teori itu, dengan demikian Dewey adalah seorang yang anti reduksionis.[23]
Meskipun Dewey seorang pragmatis, tetapi Dewey lebih suka menyebut sistemnya dengan istilah Instrumentalisme. Yang dimaksud Instrumentalisme adalah suatu usaha untuk menyusun suatu teori yang logis dan tepat dari konsep-konsep, pertimbangan-pertimbangan, penyimpulan-penyimpulan dalam bentuknya yang bermacam-macam. Cara yang dilakukan adalah dengan menyelidiki bagaimana pikiran fungsi dalam penentuan-penentuan yang berdasarkan pengalaman, mengenai konsekuensi - konsekuensi di masa depan. Salah satu kunci filsafat instrumentalia adalah pengalaman (experience). Filsafat harus berpijak pada pengalaman itu secara aktif dan kritis, agar filsafat dapat menyusun sistem norma-norma dan nilai-nilai.[24]
Filsafat Dewey yang dinamakan dengan Instrumentalisme ini memiliki tiga aspek sebagai alat dalam melahirkan penyelidikan. Di antaranya, pertama “temporalisme” yaitu terdapat gerak kemajuan nyata dalam waktu. Pemikiran kebenaran terus berjalan maju dengan melihat pengalaman yang terus berlangsung. Kedua “futuristic” yaitu mendorong untuk melihat masa depan tidak hari kemarin. Ketiga “milionarisme” bahwa kehidupan dunia ini dapat dibuat lebih baik dengan kemampuan diri manusia, barangkali pandangan yang demikian juga dianut oleh William James.[25]
Instrumentalisme yang dimaksud Dewey adalah ide besar sebagai alat dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang bersifat praktis. Dewey berusaha mengembangkan teori-teori baru tanpa melakukan reduksi dari tokoh-tokoh pragmatis sebelumnya. Ini dilakukan untuk memperoleh bentuk baru dalam kajian filsafat pragmatis.
Oleh karena itu ketika membahas masalah agama atau kepercayaan, Dewey mengakui bahwa semua agama termasuk kepercayaan merupakan sebuah doktrin kebenaran yang tersirat makna intelektual. Ini disebabkan bahwa kepercayaan merupakan pengakuan yang paling hakiki dan sebagai doktrin yang tidak dapat diubah.[26] Di samping itu pengalaman agama seseorang merupakan petunjuk yang diyakini setiap individu.
Meskipun kajian agama menjadi masalah ketika dihadapkan pada sistemnya yaitu instrumentalia, namun bukan menjadi hambatan dalam menghadapi problem ini. Bagaimanapun juga dasar yang digunakan oleh instrumentalia adalah pengalaman. Ini jelas bahwa Dewey mengakui pengalaman seseorang meski itu bersifat mistik atau tidak dapat dibuktikan dengan logika, yang penting akibat dari pengalaman itu dapat memberikan nilai manfaat baginya yaitu ketenangan dan kedamaian.
D.Kolaborasi Pemikiran Tokoh Pragmatis
Filsafat pragmatis yang telah dipopulerkan oleh William James dan dikembangkan John Dewey mendapat sambutan hangat dari masyarakat Amerika. Pragmatisme mencoba mencari format baru yang mungkin berbeda dengan filsafat yang berkembang di Yunani maupun di Eropa, meskipun pada dasarnya filsafat ini juga melakukan reduksi terhadap filsafat Yunani, yang dari zaman ke zaman menampakkan gaungnya.
Fakta menunjukkan sumber dasar yang digunakan oleh William James dengan “radikal empirision”.[27] merupakan hasil reduksi dari pemikiran bangsa Yunani yaitu Aristoteles dengan filsafat empirismenya, yang tidak jauh berbeda dengan pegangan utama pragmatis yaitu logika pengamatan. Keduanya meneguhkan dengan fakta-fakta yang dapat dilihat. Tetapi pragmatis lebih mengutamakan akibat praktis yaitu manfaat bagi hidup praktis. Sedang empirisme (Aristoteles) tidak harus berakibat pada praktis.
Antara William James dan John Dewey, pada dasarnya berpangkal pada gagasan asal dengan tiga doktrin pragmatis, namun pada akhirnya bermuara pada kesimpulan-kesimpulan yang berbeda, misalnya James dalam menilai kebebasan, tidak ada kebenaran mutlak atau berdiri sendiri, sebab pengalaman akan berjalan terus dan benar akan selalu berubah, yang ada adalah benar-benar. Semantara Dewey menilai kebenaran adalah dengan penyelidikan, dan yang benar adalah apa yang ada pada akhirnya disetujui oleh semua orang yang menyelidiki. Karena kebenaran memiliki nilai fungsional yang tetap, tetapi pernyataan-pernyataan yang dianggap benar senantiasa dapat berubah. Kemiripan di antara keduanya tersebut terkadang tidak diakui, barangkali keduanya ingin menunjukkan karyanya yang harus dibedakan dan dihargai.
Pragmatis apabila dilihat dari sisi kelebihan atau keuntungan mempelajarinya adalah kemudahan hidup yang tidak perlu berangan-angan atau berpikir yang muluk-muluk, namun cukup berpikir yang praktis dengan mempelajari pengalaman-pengalaman sendiri yang telah dilalui. Pengalaman-pengalaman itu termasuk hal-hal yang bersifat pribadi berkaitan dengan mistis atau agama, yang penting memberikan manfaat kedamaian hati, keberanian hidup. Demikian William James mengungkapkan sebagai seorang yang beragama Protestan. Nampaknya James dan Dewey dalam memandang agama mempunyai pikiran yang sama yaitu mengakui adanya pengalaman mistik seseorang yang tidak dapat dibuktikan dengan fakta, tetapi yang penting pada kehidupan selanjutnya menjadi lebih baik. Karena mampu mengambil nilai manfaat praktis dari pengalaman mistis tersebut. Sebaliknya cara-cara James dan Dewey ini berbeda ketika mencari epistemologinya dalam kajian agama sebagaimana telah dijelaskan di atas.
Sementara kelemahan yang terdapat pada filsafat pragmatisme adalah pada ketiga doktrin pragmatis yang perlu ditinjau lagi. Misalnya menolak intelektualitas yaitu rasionalitas sebagai sebuah metode. Persepsinya tidak ada planning atau rencana dalam pemikiran untuk melakukan atau mengerjakan sesuatu, karena semuanya berjalan tanpa dikendalikan oleh akal. Pengalaman-pengalaman[28] adalah yang terpenting yang dapat memberikan nilai praktis hidup. Namun apa yang terjadi jika pengalaman-pengalaman yang muncul adalah pengalaman-pengalaman yang mengerikan (pembunuhan, perkosaan, kecelakaan, dan lain-lain), yang menimbulkan akibat trauma. Barangkali pengalaman-pengalaman inilah yang harus ditinggalkan karena berakibat pada kecemasan dan keragu-raguan dalam dirinya.
Ditolaknya rasionalisme ini didasari oleh background William sebagai seorang psikolog yang berusaha mengombinasikan antara psikologi dan filsafat. Usaha ini nampak pada karyanya the sentiment of rationality yang ditulis pada tahun 1879 memperlihatkan psikologi memasuki filsafat. Masalah utama yang dihadapi filosof adalah rasio atau pengertian sesuatu, maka tahun 1884 James menulis the dilemma of determinism yang memperlihatkan sensitivitasnya terhadap aspek moral dan metafisika Kemauan bebas manusia. Filsafat membutuhkan penjelasan dari psikologi bila menyangkut masalah agama sementara filsafat memerlukan tindakan nyata dalam masalah kehidupan, yaitu filsafat tentang sesuatu yang khusus dan kongkrit yang disebut dengan pragmatisme.[29]
Masalah agama atau kepercayaan bagi James merupakan pilihan yang ditawarkan dengan opsinya yaitu living or died, forced or avoidable dan momentous or trivial. Ini berbeda dengan Dewey bahwa baginya semua agama atau kepercayaan itu merupakan sebuah pengakuan kepercayaan yang diyakini kebenarannya. Doktrin ini mampu membangkitkan keyakinan pada dirinya dalam menghadapi kehidupan. Makna agama bagi kedua tokoh ini dihayati untuk memperoleh ketenangan dan kedamaian hidup.
II.III. KESIMPULAN
Pragmatisme merupakan simbol perkembangan filsafat diabad kontemporer yang mendapat tempat tersendiri khususnya masyarakat Amerika Serikat. Diakui atau tidak pragmatisme adalah bagian dari perkembangan ilmu pengetahuan yang dihargai oleh dunia intelektual, terbukti ilmu pragmatis ini mendapat tempat dan dipelajari di Perguruan Tinggi, sebagai bagian bahan kajian filsafat.
William James dan John Dewey adalah dua tokoh pragmatis yang mampu menunjukkan pada dunia intelektual tentang bentuk filsafat barunya, sebagaimana telah dijelaskan bahwa format baru itu adalah kombinasi dari ilmu psikologi dengan filsafat terutama yang dipromotori oleh William James dengan membentuk ilmu praktis yang disebut dengan Pragmatisme. Di sisi lain John Dewey berusaha mengembangkan pragmatisme dengan metode barunya yang disebut Instrumentalisme, meskipun keduanya menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang berbeda, tetapi pada dasarnya keduanya bermuara dari satu asal yaitu dengan menggunakan logika pengamatan yang terformulasikan pada penolakan segala intelektual, absolutisme dan meremehkan logika formal.
Mempelajari filsafat tidak harus meninggalkan keyakinan agama, namun sebaliknya justru merupakan alat utama dalam mempelajari ilmu pengetahuan. Agama bukan penghalang untuk mencapai sukses tapi lebih dari itu yakni sebagai motivasi untuk mencari kebenaran. Pengalaman agama merupakan keyakinan yang dimiliki seseorang yang terkadang sulit dipercayai dengan logika. Oleh karena itu kedua tokoh pragmatisme ini mengakui adanya agama atau kepercayaan, meskipun sejarah pragmatis pada awalnya sangat anti metafisik spiritual tetapi akhirnya pada generasi kedua yaitu Hegelian telah mewarisi metafisik dari Jerman.[30] Refleksi pemikiran agama James dan John Dewey berusaha memberikan sebuah nilai yang menarik dan patut dikaji pada kehidupan umat beragama saat ini. Paling tidak hasil kolaborasinya itu dapat diambil, yaitu sebagai pengalaman mistik yang dapat memberikan ketenangan dan kedamaian hidup bagi penganut agama.
Penilaian terhadap pragmatisme bukan berarti mengkaburkan pemahaman makna praktis yang telah dipopulerkan oleh William James maupun John Dewey, tetapi karena rasa interest terhadap kajian ini, sekalipun penilaian sisi kelebihan dan kekurangan tersebut adalah masih sangat terbatas untuk didiskusikan, karena yang demikian itulah adalah bentuk kesempurnaan pemikiran yang dihasilkan manusia.
Demikian yang dapat kami sampaikan. Kritik dan saran kami harapkan dari semua pihak demi pembenahan makalah kami.
Wallahulmuwaffiq ila aqwamitthoriq
DAFTAR PUSTAKA
Bronstein J. Daniel dkk, Basic Problems Of Philosophy, America : The United States Of America, 1964
Encyclopedia Britanica, The university of Chicago, 1952
Hadiwijono Harun, Sari Sejarah Filsafat Barat- 2 Yogyakarta : Kanisius, 1980
James William, Pragmatism, Amerika : New American Library, 19740
Praja Juhaya S., Aliran-Aliran Filsafat dan Etika Bandung : Yayasan Piara, 1997
Popper R. Karl, The Logic Of Scientific Discovery, London : Routladge, 1980
Russel, Betrand History Of Western Philosophy , tt, 1945
Solomon Robert C., Kathleen M. Higgins, A short History Of Philosophy, New York : Oxford University Press, 1996
Tafsir Ahmad, Filsafat Umum Bandung : Remaja Rosdakarya, 1990
Wibisono Koento, Misnal Munir, Makalah, Pemikiran Filsafat Barat: Sejarah Dan Peranannya Dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan
[1] Koento Wibisono, Misnal Munir, Makalah, Pemikiran Filsafat Barat : Sejarah Dan Peranannya Dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan, hlm 24
[2] William James, Pragmatism ( Amerika : New American Library, 19740), hlm 438
[3] Juhaya S. Praja, Aliran-Aliran Filsafat dan Etika (Bandung : Yayasan Piara, 1997), hlm 115
[12] Ayah William James yaitu Henry James adalah seorang yang terkenal dan berkebudayaan tinggi dan pemikir kreatif. lihat Ahmad Tafsir, Filsafat Umum (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1990), 190. Harun Hadiwijono, Ibid, hlm 131
[13] Psikologi menurut James adalah suatu ilmu pengetahuan tentang gejala-gejala yang sejajar dengan ilmu pengetahuan alam, dimana psikologi mempunyai hukum-hukum dan metode sendiri.lihat Harun Hadiwijono, Ibid, hlm 131
[14] Betrand Russel, History Of Western Philosophy (tt, 1945), hlm 766
[26] Daniel J. Bronstein, Basic Problems Of Philosophy (America : The United States Of America, 1964), hlm 496
[27] Sebuah doktrin dari teori pragmatismenya dengan tiga syarat yang menjadi pegangan antara filsafat pragmatisme yaitu menolak intlektualisme, absolutisme dan meremehkan logika formal, lihat Betrand Russel History of Western Philosophy, Ibid 766. Radical empiristion dipublikasikan pada tahun 1904 dalam sebuah Essay yang disebut “Conscousness” tujuan utama menolak tentang hubungan subjek objek fundamental, Ibid, hlm 767
[28] Apa pengalaman itu? Cara terbaik menemukan jawabannya adalah dengan membedakan antara peristiwa (event) yang tidak dialami dan peristiwa yang dialami, kehujanan adalah pengalaman, tetapi hujan dimana berada adalah tidak meninggalkan sesuatu yang bukan pengalaman. Kerena ada adalah bukan pengalaman kecuali dimana ada itu tinggal.lihat Betrand Russel, History Of Western Philosophy, Ibid, 768
[29] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1990), hlm 192
[30] Robert C. Solomon, Kathleen M. Higgins, A Short History Of Philosophy ( New York : Oxford University Press, 1966), hlm 261
Tuhan… tunjukkanlah aku kepada orang yang telah engkau beri petunjuk.
Allah,,,,
malam membuat aku bertanya, “bagaimana?”
Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku tulis untuk-Mu,
tiada lagi makanan kesukaan, tiada lagi hobi di waktu terjagaku, komitmen_pun tak lagi berguna. Apalagi prinsip, hampir semua gugur karena komitmen yang tak lagi ada.
Malam-Mu… Di dalamnya aku pernah merasakan hidup,
di dalamnya aku pernah merasa tenang kerena sendiri bersama-Mu,
merasakan hangatnya sentuhan Rahmat-Mu,
sejuknya nafas-Mu.
Tapi di dalam malam-Mu juga, sekarang membuat aku bertanya,
“aku harus bagaimana?”
“Ya Allah, engkau adalah Tuhanku,
tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau,
Engkaulah yang menciptakan aku.
Aku adalah hamba-Mu.
Aku akan setia dengan perjanjianku dengan-Mu semampuku.
Aku berlindung kepada-Mu
dari kejelekan yang aku perbuat.
Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku
dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu ampunilah dosaku.
Sesungguhnya tiada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau”.
Semarang, 28 Mei 2007 @ 11:06 PM
Lesu, bingung, terasa letih tanpa semangat.
Setiap saat sering terasa hampa, sepi, ya Allah… bagaimana aku harus berjalan kalau semangat tetap terhenti. Aku bingung ya Allah… sebenarnya sekarang apa yang harus aku lakukan????
Ya Allah, tiada kata yang mampu terucap lagi selain keluhan dan permohonan.
Kapan hati ini akan berkata setuju dengan tingkah laku perbuatanku?
waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari
matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar
tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang aku dan bayang-bayang tidak bertengkar
tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan
sampai hari itu tiba,
hari di mana matahari mengeluarkan panas yang dimilikinya
hari di mana ia datang tepat di atas kepala kita
tidak lagi sebagai mentari yang terbit tuk menyejukkan mata
aku melihatmu berjalan di tengah keramaian jeritan setiap orang
ingin kupegang tangan itu dan memapahmu.....
sungguh telah kucoba namun tak bisa melakukannya
sepercik telaga kautsar bergenang di atas telapak tanganku
kamu datang dan meminumnya hingga tak tersisa
kamu menangis karena aku tak dapat merasakannya,
menangis..........
menangis,
dan terus menangis dengan berkucur air mata
kemudian..............
...........
kemudian..................
..............
aku tak bisa berbuat apa apa
sedikitpun aku tak mau kamu meneteskan air mata
sungguh itu sangat berharga
aku tak tahu bagaimana harus mengatakannya
aku juga tak mengerti bagaimana cara menghentikannya,
lalu............
aku memandang wajahmu,
hingga kemudian...
aku lihat air matamu dan meminumnya.
kemudian aku terbangun dan berkata...
tahukah kau,
sampai hari itu tiba
rasa ini 'kan selalu terjaga.
Dan setelah kamu tak lagi meneteskan air mata
dengan rasa takut tak percaya kamu bilang 'jangan katakan bahwa...!!'
lalu,
kamu menangis tanpa air mata
tertawa tanpa suara
kemudian,
kita semua terdiam...
kita semua menunggu sebuah peradilan dari-Nya
dan semua menerima lembar fiksi yang telah ditulis sepanjang waktu yang pernah mereka punya
melihat dalam dirinya dan banyak yang bertanya mengapa bukan lengan kanan yang menerima,
dan saat itu aku ingin berkata pada-Nya
...Rasa yang Engakau berikan begitu agung hingga aku tak kuasa ingkar pada_nya,
bagaimana mungkin aku lari sementara dia selalu terjaga dalam mimpi dan nyata..?!!
ALLAHU AKBAR LA ILAHA ILLA ‘LLAH – ALLAHU AHAD (Allah Yang Maha-Besar. Tidak ada ilah lain kecuali Allah, Allah Yang Maha Esa).
Kalimat diatas, adalah menjadi kenyakinan bagi umat beragama, terutama dianut oleh Islam dan Kristen.
Di dunia ini, terdapat pelbagai macam corak agama. Dan dapatlah dikatakan bahwa sejak dahulu kala, dari segala zaman, semua bangsa yang ada didunia ini, mempercayai akan adanya sesuatu zat ghaib, yaitu oknum yang mutlak berkuasa atas alam semesta ini, yang ada dengan sendirinya sejak semula sekali, sebagai penciptanya, yaitu Allah al Khalik.
Tentu saja, masing-masing Agama menyebutkan nama Allah ini dengan sebutan-sebutan yang sesuai dengan bahasanya atau pengertian bahasa Agamanya masing-masing.
Istilah "ALLAH", tidaklah menjadi monopoli sesuatu golongan atau sesuatu bangsa, dan juga bukan monopoli oleh sesuatu agama. Apakah yang dapat diketahui oleh manusia tentang Allah?
Pada penulisan ini, kita tidaklah lagi merasa perlu mengemukakan bukti-bukti tentang adanya Allah, dipandang dari pelbagai segi. Cukup kita simpulkan saja, bahwa Dia adalah yang tidak berpermulaan dan tidak berkesudahan, atau dengan kata lain, Dia adalah yang kekal adanya. Alkitab mengatakan demikian:”Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampat selama-lamanya Engkaulah Allah.” (Mazmur 90:2)
Penulis-penulis Alkitabpun tidak merasa perlu untuk membuktikan adanya Allah. Alkitab menganggap bahwa Allah itu ada, titik. Pada permulaan Alkitab, Kejadian 1:1, telah diceritakan bahwa:
“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi"..:
Dalam Kitab Zabur, Mazmur 14:1 diperingatkan bahwa orang yang beranggapan bahwa Allah itu tidak ada (atheisme) adalah merupakan orang gila.
ALLAH, menurut pandangan Kristen dan Islam, adalah sama sepakat, yaitu :
1. 1). ALLAH, KHALIK LANGIT DAN BUMI (ALLAH SEMESTA ALAM)
- Al-Quran: s.An Nisaa 4:126, 131: s.An Nur 24: 42; s.Al Maidah 5:120; dan lain-lain.
Allah, adalah pencipta. Dia adalah Khalik semesta aalam, zat wajibal wajud, ada dengan sendirinya. Yang lain dari Dia, adalah makhluk yang diciptakan olehNya.
Rasul Paulus menjelaskan sebagai berikut: “.. namun bagi kita hanya ada Satu Allah saja, yaitu Bapa, yang daripadanya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup..” (1 Korintus 8: 6a)
“… sebab punyaKu-lah dunia dan segala isinya”. (Mazmur 50:12)
“… sebab Akulah yang empunya seluruh bimi …” (Keluaran 19: 5b)
Allah itu adalah pemilik segala sesuatu. Karena itu, bagi setiap orang Kristen yang baik, dia akan menginsafi akan dirinya, bahwa apapun yang ia peroleh atau miliki dan yang dapat dipergunakannya pada saat sekarang ini, adalah tidak lebih dinilainya daripada hak pakai sementara dari pemiliknya, yaitu Allah itu sendiri.
2).ALLAH ITU ESA ADANYA.
- Al-Quran: s.Al.Ikhlas 112:1; s.An Baqarah 2:163; dan lain-lain.
- Alkitab : Yesaya 45:5; Yohanes 17:3;5:44; Roma 3:30; 1 Kori.8: 4-6 dan lain-lain.
Kalau kita mau melihat kepada perbandingan-perbandaingan yang jujur dari kedua ajaran Agama, yaitu Islam dan Kristen, nyatalah keduanya bersumberkan kepercayaan Nabi Ibrahim, Bapa yang mewariskan iman kepada Tiga Besar Agama, yaitu Monotheisme atau Tauhid, yaitu berAllah-kan Yang Maha Esa.
Dalam keMahaesa-an Allah ini, jelas dapat dibaca dalam Alkitab dan Al-Quran. Salah satu diantaranya tertulis dalam Al-Quran s.Al Ikhas 112:1 “Qul huwa’llahu ahad” (katakanlah: Allah itu Esa). Begitupun dalam Alkitab dapat kita baca dalam kitab Ulangan 6: 4-5 demikian; "Dengarlah hari Israel! Sesungguhnya Hua Allah kita itu Esa adanya".
“Akulah Tuhan dan tidak ada lain; kecuali Aku tidak ada Allah”. (Yesaya 45:5) Injil Yohanes 17:3 mengatakan;” Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenai Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenai Isa Al-Masih yang telah Engkau utus.”
Karena itu jelaslah, bahwa tuduhan-tuduhan setengah orang dari golongan Islam yang mengatakan bahwa Agama Kristen tiu, tidaklah berAllah-kan Maha –Esa, tetapi malah berAllah-kan Maha-Tiga, adalah merupakan suatu tuduhan atau prasangka yang keliru.
Mengenai masalah “keMahaesaan Allah” ini, akan diuraikan kembali secara khusus dalam buku ini pada halaman lain, dibwah judul “keMAHAESA-AN ALLAH”.
3). HANYA ALLAH YANG WAJIB DISEMBAH.
- Al-Quran: s.Asy Sura 42:10, s.Maryam 19:36; s.An nahl: 16:36
Alkitab menegaskan, bahwa segala penyembah yang benar itu akan menyembah Allah itu dengan Roh dan Kebenaran - Yohanes 4: 23.
Sayidina Isa telah berkata:” …. Engkau harus menyembah yang benar itu, akan menyembah Allah itu dengna Roh dan Kebenaran". - Yohanes 4:23.
Isa bersabda : ”…. Engkau harus menyembah Tuha, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti”. (Lukas 4:8, Matius 4:10).
Dalam kitab Ulangan 6:13 tersurat demikian: "Engkau harus takut akan Tuhan,Allahmu; kepada Dia haruslah engkau beribadah dan demi namaNya haruslah engkau bersumpah";.
Yosua 24: 14-15:”beribadahlah hanya kepada Tuhan saja, tidak kepada ilah-ilah lainnya, Ulangan 6:13: Kepada Dia kita harus beribadah.
Seorang Kristen yang baik menurut Alkitab, tidak akan memperilahkan yang lain di hadirat Allah.
Mengenai masalah ini akan diuraikan kembali pada halama lain dibawah judul “Masalah Syirik dalam ajaran Kristen”.
Sesuai dengan makna Allah itu Maha Esa, artinya hanya satu-satunya tidak persamaannya dengan yang lain. Dia Maha Esa zat-Nya, tidak ada zat lain yang sama dengan-Nya. Dia Maha Kuasa, tidak ada persamaannya kuasa yang tertinggi lainnya hanya Dia, dan sebagainya. Dalam istilah ajaran Tauhid Islam di katakan Mukhalafat Hu ta’a’I lil hawadith artinya yang berbeda dengan segala apa yang baharu (alam).
Dalam Alkitab dikatakan:”Sebab itu Engkau besar, ya Tuhan Allah, sebab tidak ada yang sama seperti Engkau dan tidak ada Allah selain Engkau….” (2 Samuel 7:22)
Alkitab mengatakan, bahwa “Allah itu Roh adanya” (Yohanes 4:24). Karena Allah tidak berdarah daging. Dia adalah suatu zat ghaib. (a zat – immeteriil) yang tidak terlihat pada pandangan mata inderia manusia.
Dalam Yohanes 1:18 ditegaskan, bahwa: 'Tidak seorang yang pernah melihat Allah’ tetapi Putera Tunggal Allah, yang ada dipangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya “Makna menyatakan-Nya” disini, adalah tentang “menampakkan tentang adanya Allah yang tidak nampak itu”.
Dalam nats lain dikatakan ”Dia, yang telah menyatakan diriNya dalam rupa manusia “(1 Timotius 3:16).
Bagi saudara kita yang beragama Islam, kalimat diatas, mungkin dapat dibandingkan dengan nats Al-Quran yang terdapat dalam s.Al Hadid 57:3 yang mengatakan:”Dialah yang Awal dan Yang Akhir, yang Zhahir dan Yang bathin ….”
Makna perkataan “Yang Zhahir, yakni yang nampak”, dalam penafsirannya no. 1453 (Quran dan Terjemahannya dari Dep. AgamaR.I.) dikatakan:” Yang Zhahir ialah Yang nyata adanya, karena banyak bukti-buktinya dan “yang bathin” ialah yang tidak dapat digambarkan hikmat dan zat-Nya oleh akal.”
Jadi makna yang dikatakan “menyatakan” menurut Alkitab, adalah semakna dengan “yang zhahir” menurut Al-Quran. Hal ini akan dijelaskan kembali pada uraian lain, dibawah judul “keIlahi-an Isa Al-Masih”.
Rasul Paulus dalam suratnya 1 Timotius 6:16 kembali mengatakan;” ….Seorangpun tidak pernah melihat Dia dna memang manusia tidak dapat melihat Dia. BagiNya-lah hormat dan kuasa yang kekal.
6). ALLAH YANG RAHMANI DAN RAHIMI
- Al-Quran: s.Al Fatihah 1:3
- Alkitab : 1 Yohanes 4:7-8; Mazmur 145:8
Alkitab mangatakan, bahwa ;”Allah adalah kasih” (1 Yohanes 4:8). Dalam Mazmur 145:8 dikatakan:”Tuhan itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya.”
Allah yang Rahmani dan Rahimi menurut ajaran Kristiani, ialah Allah yang memberi, meng-anugerahi, tanpa menuntut sesuatunya dari umatnya yang disantuni tersebut sebagai imbalan.
Ada banyak diantara agama di dunia ini, yang mengjarkan bahwa keselamatan kekal di alam sorgawi itu akan dianugerahkan Allah keapda siapa saja dengan perhitungan dosa manusia itu, akan dinilai satu persatu dalam suatu masa penghukuman keadilan teakhir. Jika seseorang dimasa hidupnya dialam duni ini, lebih banyak berbuat dosa, ia akan dimasukkan kedalam hukuman neraka. Tetapi kalau ia lebih banyak berbua amal, ia akan mendapat kehidupan kekal dalam Sorga.
Kalau kita mendalami makna pengertian bahwa Allah itu adlah “Pengasih dan Penyayang”, bahkan “Maha Pengasih dan Maha Penyayang”, maka balance system demikian ini, malah meniadakan sifat keRahim-an dan keRahma-an Allah itu sendiri. Karena anugerah Sorga itu, hanya akan dapat ditentuakn dengan hasil usaha perbuatan sendiri.
Seorang pekerja buruh mendapat upah, adalah wajar, tetapi tidaklah dapat diartikan bahwa sipemberi upah itu adalah seorang yang Rahim. Jika seseorang memberikan sesuatunya kepada orang lain, baik karena diminta ataupun tidak diminta, dan tidak menuntut sesuatu imbalan, sipemberi itu, dapat dikatakan seorang yang rahim, seorang pengasih. Begitulah Allah yang Rahimi, pasti tidak akan menuntut, tetapi memberi, menganugerahkan.
Tidaklah mungkin manusia, akan dapat menyelamatkan dirinya sendiri dengan amalnya sendiri, tanpa anugerah Allah.
Manusia akan lebih banyak berbuat dosa, daripada berbuat amal saleh. Andaikata perbuatan amal itu yang dapat menentukan keselamatan seseorang, maka pastilah perhatian orang-orang berdosa, tidaklah lagi diarahkan kepada harap Kasih – Anugerah pengampunan Allah.
Rasul Paulus mengatakan:”Sebab karena kasih karunia, kamu diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah itu, bukan hasil pekerjaanmu" “(Efesus 2:8)
Rasul Petrus mengatakan dalam Kis. 2:38 demikian:” Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Isa Al-Masih untik pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus ….”
“…. Orang benar akan hidup oleh Iman”. (Roma 1:17; Habakuk 2:4).
Kalau demikian, apakah kita sudah tidak perlu berbuat amal baik lagi, karena sudah mengaku percaya itu?
Tidak! Bukan demikian maksudnya.
Berbuat amal saleh, adalahmemang perbuatan orang beriman. Rasul Paulus dalam 1 Korintus 10:31 mangatakan:”Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanla semuanya itu untuk kemuliaan Allah”.
Dan setiap perbuatanyang baik, mamang mendapat pahala. Tetapi yang menentukan kehidupan kekal itu, yang menentukan keselamatan dialam sorgawi itu, bukanlah sebab amal-amalnya, melainkan semata-mata Anugerah Allah karena iman, karena percaya.
Isa dengan tegas mengatakan:”Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataanKu dan pecaya kepada Dia yan gmengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal, dan tidak turut dihukumkan, sebab ia sudah pindah dari pada maut kedalah hidup”. (Yohanes 5: 24)
Uraian mengenai masalah ini, akan diuraikan kembali secara khusus pada halaman lain dibawah judul “Anugerah Keselamatan”
7). ALLAH YANG KEKAL DAN MAHA KUDUS
- Alikitab: Mazmur 90:2
Allah adalah yang kekal, tidak berpermulaan dan tidak berakhir.
Ehyeh asher ehyeh =Akulah yang Ada; aku ini ADA. Dalam ajaran Islam dikatakan sebagai hakikat :”Zat wajibal wujud”
Jepara, 12 Maret 2012 - Dalam teks Yunani Perjanjian Baru, ada beberapa kata dan frasa Aram yang dimasukkan tanpa diterjemahkan (sekalipun diterjemahkan, kata/huruf aslinya selalu disertakan) karena kekhususannya. Dari kata-kata itu terdapat kata-kata yang terucap dari Nabi Isa As./Almasih (Yesus);
Talita kum
Markus 5:41
Lalu dipegang-Nya tangan gadis itu, kata-Nya: "Talita kum," yang berarti: "Hai anak perempuan, Aku berkata kepadamu, bangunlah!"
Efata
Markus 7:34
Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik napas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya: Terbukalah!
Kata Aram ini diberikan bentuk aslinya dan disertai dengan terjemahan. Dalam huruf Yunani, kalimat Aram ini ditulis sebagai εφφαθα (ephphatha). Ini diambil dari bahasa Aram "ethpthaħ", bentuk imperatif pasif verba "pthaħ", membuka.
Eli Eli lema sabachthani
Matius 27:46
Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?"
Markus 15:34
Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eloi, Eloi, lama sabakhtani?", yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?"
Efata : Terbukalah = Bahasa Ibrani
Annamarie : Rahmat yang sempurna = Bahasa Ibrani
Avagail :
Ini adalah nama Ibrani. Nama ini berarti: Ayah saya bergembira. Alkitab; nama istri ketiga Raja Daud digambarkan sebagai 'baik dalam kebijakan dan indah dalam bentuk.
Efata Annamarie Avagail (Efata) Dengan keindahan bentuk dan sikap bijak, semoga Allah SWT membukakan kesempurnaan Rahmat-Nya. Amin...
Talitha Oren Nediva (Oren) √
Kau adalah Perempuan yang dirindukan, terbuka pada kesempatan, empati dan pengertian. Tidak mudah dibodohi oleh siapapun, romantis dan penuh ide dan gagasan cemerlang. Karena itu jadilah orang yang dimuliakan dengan selalu bersikap dermawan.
Aaron Eleazar Arashel (Aaron) √
Kaulah cahayaku yang bersinar di tengah – tengah kegelapan, penguasa dan pemimpin yang bijaksana. Berdirilah dengan kokoh agar kamu mampu melindungi dan dilindungi.
Bahasa Aram Yesus (Nabi Isa)
(Frasa-frasa Aram dalam Perjanjian Baru)
Dalam teks Yunani Perjanjian Baru, ada beberapa kata-kata dan frasa Aram yang dimasukkan tanpa diterjemahkan. Kata-kata ini sebagian besar adalah kata-kata Yesus sendiri, dan kemungkinan memiliki makna khusus karena ini.
Lalu dipegang-Nya tangan gadis itu, kata-Nya: "Talita kum," yang berarti: "Hai anak perempuan, Aku berkata kepadamu, bangunlah!"[1]
Ayat ini memberikan sebuah kalimat Aram, yang konon dipakai Yesus dalam pengobatan gadis ini, dengan sebuah terjemahan dalam bahasa Yunani. Alihaksara Yunani dari frasa ini adalah ταλιθα κουμ (talitha koum).
Naskah-naskah manuskrip Yunani yang paling bisa diandalkan, yaitu (Codex Sinaiticus, Codex Vaticanus) yang memuat Injil Markus, memiliki teks ini, tetapi beberapa naskah lain (seperti Codex Alexandrinus), mayoritas teks dan teks Vulgata memuat κουμι (koumi). Varian kedua ini menjadi Textus Receptus, dan merupakan versi yang muncul dalam versi The Authorised Version.
Dalam bahasa Aram ini adalah is "ţlîthâ qûm". Kata "ţlîthâ" adalah bentuk feminin dari kata "ţlê", yang artinya adalah muda. "Qûm" adalah verbaAram yang berarti bangun atau berdiri. Bentuk imperatif tunggal feminin adalah, aslinya adalah "qûmî". Namun, ada bukti bahwa dalam percakapan sehari-hari akhiran "î" ditanggalkan sehingga dalam bentuk imperatif tidak ada perbedaan antara kelamin maskulin dan feminin. Naskah manuskrip-manuskrip yang lebih tua, karena itu, menggunakan ejaan Yunani yang merupakan transkripsi pengucapan yang setia, sedangkan tambahan huruf "ι" kemungkinan adalah sebuah hiperkoreksi seorang penyalin yang mengenal bahasa Aram.
Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik napas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya: Terbukalah!
Sekali lagi, kata Aram ini diberikan bentuk aslinya dan disertai dengan terjemahan. Dalam huruf Yunani, kalimat Aram ini ditulis sebagai εφφαθα (ephphatha). Ini diambil dari bahasa Aram "ethpthaħ", bentuk imperatifpasifverba "pthaħ", membuka.
Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eloi, Eloi, lama sabakhtani?", yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?"
Kalimat ini yang diserukan oleh Yesus di kayu salib dan memiliki dua versi. Versi Injil Matius dalam alihaksara Yunani ditulis sebagai berikut: ηλι ηλι λεμα σαβαχθανι (eli eli lema sabakhthani). Sedangkan alihaksara versi Markus mirip pula, tetapi dimulai dengan: ελωι ελωι (eloi eloi). Bahasa Aram dari kalimat Matius ini adalah êlî êlî lmâ švaqtanî. Sedangkan Markus menulis elohî elohî.
Yesus kelihatannya mengutip dari ayat pertama kitab Mazmur22:1-3
"Untuk pemimpin kor. Menurut lagu: Rusa di kala fajar. Mazmur Daud. Allahku, ya Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku. Ya Allahku, aku berseru di waktu siang, tetapi Engkau tetap diam. Aku berdoa di waktu malam, hatiku tidak juga tenang."
Namun, Yesus tidak mengutip dari sumber Ibrani yang kanonik (resmi) - êlî êlî lâmâ `azabtonî, tetapi menggunakan sebuah terjemahan dalam bahasa Aram (lihat targum).
Dalam ayat selanjutnya, dalam kedua versi, seseorang yang mendengarkan seruan Yesus mengira bahwa beliau memanggil nabi Elia untuk menolong-Nya. Ini mungkin untuk menekankan ketidaktahuan orang tersebut akan apa yang sedang terjadi. Penggunaan kata ηλι oleh Matius bisa jadi menunjukkan penggunaan ayat Mazmur ini yang lebih 'resmi', yang dekat dengan bahasa Ibrani. Sedangkan versi Markus kemungkinan memperlihatkan bahasa Aram sehari-sehari secara lebih baik.
Beberapa naskah manuskrip kuno Yunani menunjukkan tanda-tanda para penyalin yang berusaha menormalisasikan teks. Misalkan sebagai contoh, Codex Bezae yang aneh, mengubah kedua versi Injil menjadi ηλι ηλι λαμα ζαφθανι (êli êli lama zaphthani).
Karena kalimat ini diterjemahkan dalam bahasa Yunani pada kedua kasus ini, maka arti terjemahannya tidak kabur. Namun ada sejumlah kecil pakar yang menentang hal ini, salah satu di antaranya adalah George Lamsa, namun metodologinya dibuktikan tidak memadai.
Kata Aram "švaqtanî" didasarkan pada kata kerja (verba) "švaq", 'tinggal, lupa', dengan akhiran modus perfektif -t (pronominal ke-2: 'engkau'), dan obyek sufiks "-anî" (pronominal ke-1 tunggal: 'saya')._http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Aram_Yesus
Aq benci pada mereka yang suka menyanjung dan memuji_q...
Aq suka pada mereka yang membeci dan memusuhi_q,,,sebab mereka selalu jujur pada_q,,,dan karena mereka-lah aq mampu mengerti Siapa Diri_Q.