Malam......!!
Semua orang sedang menertawakan kebenaran,
tidakkah kau ijinkan aku untuk membuat kebenaran tertawa...??
Hai..
Aku menyapamu,
hanya kamu,
kamu yang paling terdalam dalam dirimu,
bukan dia,
bukan pula mereka.
di manakah dirimu?
mereka telah keluar dari 'goa',
namun kapan kamu 'kan membuka mata,
kau terlalu lama menutup mata indah itu...
karenanya aku ingin mengajakmu membukanya
dirimu menghilang sekian lama,
dengan mata buta tak bersuara,
mungkinkah kamu tahu ada di mana?!!
meski kamu 'kan membunuhku,
aku relakan asal kau lihat semua itu.
Zaman dahulu cincin mempunyai arti simbolik yang sangat kuat, karena itu cara mengenakannya terdapat banyak aturan yang berbeda-beda. Menurut kebiasaan orang Tionghoa, cincin pertunangan umumnya dipakai di jari tengah dari tangan kiri, cincin perkawinan dipakai di jari manis tangan kiri. Apabila belum menikah, harus dipakai di jari tengah atau jari manis dari tangan kanan, bila tidak akan membuat orang-orang yang yang melihat hal ini akan memberhentikan niat untuk mengejar atau mendekatinya.
Menurut tradisi kebiasaan orang Barat, apa yang terlihat di tangan kiri adalah pemberian keberuntungan dari Tuhan. Hal ini berkaitan erat dengan hati manusia. Karenanya, cincin yang dipakai di tangan kiri dikatakan sangat bermakna.
Di dunia internasional, cara pemakaian cincin yang agak tren adalah :
Jari telunjuk -> Hendak menikah, menunjukkan belum menikah.
Jari tengah -> Dalam masa pacaran.
Jari manis -> Menunjukkan telah bertunangan atau telah menikah.
Kelingking -> Menunjukkan masih single.
Untuk halnya tangan kanan, dalam tradisi juga ada suatu ungkapan, yang mempunyai arti sama dengan pemakaian di jari manis.
Menurut orang-orang, bila dipakai di tangan kanan, ini menunjukkan berjiwa bagaikan seorang biarawati. Tentu saja, masih ada sejenis cincin, di mana pun Anda memakainya, tidak mengandung makna apa pun juga.
Cincin yang sejenis ini umumnya bermotif, itu hanyalah sebagai perhiasan, boleh dipakai di jari mana pun yang Anda suka, tidak ada larangan apa pun.
Dalam hal ini saya hanya ingin berbicara dalam konteks pada umumnya di Indonesia. Tuhan memeberikan tangan untuk kita penuh dengan makna dan kegunaannya. Tangan memiliki jari pada masing masing bagiannya, di mana tiap bagian terdapat lima jari yang berbeda bentuk dan ukurannya. Dan dari tiap tiap jari tersebut memiliki arti serta kegunaan tersendiri.
Jempol menjadi lambang sesuatu yang bagus apabila dia di hadapkan ke atas, namun akan sangat berbeda artinya kalau dihadapkan ke bawah. Mereka banyak menyebut jari tersebut adalah ibu jari (jari induk). Dan saya lebih suka menyebutnya sebagai lambang orang tua.
Jari telunjuk, jari yang satu ini sangat bermanfaat sebagai penunjuk sesuatu, objek atau arah. Tapi kalau ditunjuk ke muka orang artinya bukan lagi sebuah petunjuk, melainkan amarah. Saya biasa menganggap jari itu adalah lambang saudara.
Selanjutnya adalah jari tengah, jari penuh kreatifitas karena ukurannya lebih panjang dari jari-jari yang lain. Dan saya mengatakan itu bisa merupakan lambang Tuhan.
Setelah jari tengah ada jari manis, jari yang pada umumnya digunakan untuk menempatkan cincin.
Terakhir adalah kelingking, salah satu jari yang sering dipakai oleh remaja untuk berjabat dengan arti berjanji. Namun ada juga yang mengatakan bahwa jari tersebut cukup akrab dengan lubang-lubang di bagian tubuh. Dan saya menyebutnya dengan lambang anak.
Pada umumnya kita selalu mengenakan cicin tunangan atau perkawinan (yang menandakan adanya hubungan) di jari manis…why..?
Coba kita pahami. Langkah pertama, Ikuti posisi jari tangan sesuai gambar. Jari tengah kiri dan kanan bersatu dalam posisi nempel ke dalam. Sementara ke empat pasangan jari-jari yang lain diposisikan saling bertemu sejajar. Jari tengah –seperti yang saya katakan—adalah lambang Tuhan, lipat ke dalam, dengan maksud kita akan selalu menyimpannya di dalam diri kita dengan sangat dalam.
Kemudian coba kita angkat kedua ibu jari supaya terpisah antara satu sama lain, dengan tidak merubah posisi jari-jari yang lain. Ibu jari adalah lambang dari orang tua kita, yang suatu saat pasti akan meninggalkan kita.
Seperti halnya dengan ibu jari, coba pisahkan jari telunjuk kita agar tidak menempel antara keduanya (kanan dan kiri). Ini adalah lambang dari saudara-saudara kita, kakak maupun adik. Cepat atau lambat mereka akan meninggalkan kita untuk hidup dengan keluarga mereka atau sebaliknya.
Kemudian dengan jari kelingking, angkat keduanya seperti halnya ibu jari dan jari telunjuk. Jari kelingking adalah lambang dari anak kita. Yang suatu saat mereka akan meninggalkan kita untuk hidup dengan pasangannya.
Dan sekarang giliran jari manis, jari yang biasa digunakan untuk mengenakan cicin kawin. Coba pisahkan keduanya seperti halnya jari-jari lain. Bisakah kita melakukannya?
Suatu ketika ada seorang bapak tua dan anaknya berjalan bersama keledainya melewati pasar. Dalam hiruk pikuk suasana pasar, seseorang menyeru, “wahai teman-temanku perhatikanlah seorang bapak tua dan anaknya itu, kenapa mereka tidak menggunakan otaknya untuk berpikir. Bukankah mereka memiliki keledai, tapi kenapa mereka masih berjalan kaki, alangkah bodohnya.”
Kemudian si bapak tua dan anak itu melanjutkan perjalanan. Bapak tua menaiki keledainya dan si anak berjalan kaki sehingga sampailah mereka di suatu tempat keramaian. Tiba-tiba dari keramaian itu terdengar suara “wahai bapak tua, alangkah teganya kau menyuruh anakmu berjalan kaki di tengah gurun sementara dirimu berada di punggung keledai. Tidakkah kau memikirkan anakmu”
Untuk melanjutkan perjalanannya si bapak menyuruh anaknya naik ke punggung keledai sedangkan ia berjalan kaki. Dalam perjalan, terdengar bisikan orang yang mengatakan, "alangkah durhakanya anak itu, tidakkah dia kasihan dengan orang tuanya yang sudah renta itu”
Perjalanan masih dilanjutkan, mereka berdua menaiki punggung keledainya. Belum begitu jauh mereka berjalan, terdengar seseorang dengan perasaan miris berteriak, “wahai kalian bapak dan anak! Di mana perasaan kalian sebagai manusia? Kalian tega menganiaya binatang yang sangat malang itu, tidakkah kalian kasihan dengan keledai itu yang berjalan terseok-seok?"
Kemudian sang bapak berkata; “wahai anakku, ketahuilah olehmu, sekalipun keledai kita angkat dengan kedua tangan kita, sungguh mereka tidak akan pernah berhenti berbicara”
(Kisah Lukmanul Hakim – dikutip dari kitab Bulughu Al Marom karya Ibnu Hajar Al-Asqalan)
Dunia adalah panggung sandiwara begitu kata Shakespears. Kenyataan telah mengajarkan kita tentang kehidupan.
Hidup ini adalah pilihan. Siapapun bebas memilih hidupnya, tidak ada yang dapat mendikte kehidupan sesoorang. Setiap jiwa merdeka untuk memilih. Adakalanya kita bingung dalam memilih. Itu tak lepas dari kemampuan kita dalam menentukan suatu hal, ada yang dengan cepat dapat mengambil keputusan dan ada yang terlalu lama dalam menentukan pilihan. Salah satu alasannnya adalah karena pertimbangan. Jadi manusia penuh pertimbangan itu baik, tapi menjadi orang yang banyak pertimbangan akan membentuk pribadi yang peragu, sehingga sulit untuk mengambil suatu keputusan.
Gaya pikir dan waktu sangat mempengaruhi keputusan seseorang ketika kita melihat suatu hal. Terkadang hal yang menurut kita baik belum tentu baik juga untuk orang lain, begitu juga sebaliknya. Penting atau tidak penting, butuh atau tidak butuh, cantik atau jelek, semuanya tergantung pada gaya pikir yang disimpulkan dengan satu keputusan.
Begitu halnya ketika kita menilai orang lain. Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda. Itulah penyebab adanya kritikan. Sadar atau tidak, terlalu banyak dari kita yang sangat suka berkomentar untuk menilai seseorang. Ada saja yang menjadi objek penilaiannya. Tidak ada yang terlewatkan oleh mata manusia semacam ini karena semua orang pasti memiliki kekurangan di mata mereka.
Ada di antara manusia terlalu malas untuk memberikan penilaian tapi yang mereka inginkan adalah dinilai. Inilah tipe manusia yang suka bertindak sebagai aktor. Ada kepuasan sendiri ketika bisa melakukan sesuatu. Tidak hanya diam terpaku, tapi selalu mengalir seperti mata air yang selalu memancarkan kejernihan dalam dirinya. Inilah ciri-ciri manusia maju yang telah memutuskan dirinya untuk bertindak.
Ketika seseorang tidak memiliki kecenderungan untuk mengkritik atau bertindak maka jadilah ia penonton. Manusia semacam ini adalah peragu. Tidak memiliki pendirian yang kokoh dan hanya mengikuti ke mana arus itu mengalir. Jika mereka melihat banyak orang yang menilai baik maka mereka juga akan ikut membenarkan. Ketika banyak orang yang menyalahkan maka merekapun ikut menyalahkan. Tidak mempunyai suatu pandangan yang bisa mengarahkan keputusan mereka.
Hidup adalah pilihan. Peranan apa yang kita ambil tentunya akan sangat berpengaruh pada keputusan. Satu hal yang perlu kita ingat tidak ada manusia yang sempurna di mata manusia yang lain. Seperti halnya kisah Luqmanul Hakim dan anaknya.
Di pagi itu aku bangun
mentari menyambut
kubuka jendela
bunga-bunga mekar dan tersenyum,
bersamanya aku duduk
merasakan hangat mentari
burung-burung bernyanyi
pepohonan ikut menari.....
tidakkah kau lihat semua itu amat serasi...
berdiri aku dan berlari mengikuti mentari
wahai bunga-ku....
aku tahu siapa sebenarnya yang kurayu
aku pasti kembali duduk bersammu.
Bisu.....diam aku menatap ombak
bergemuruh di kupingku
berjalan lelaki tua di depanku
seakan mengejek
Irama laut.........
Butiran pasir......angin terhempas
menyayat tubuhku
terdengar lonceng kereta kuda....!!!!
aku terdiam membisu...
hembusan angin lembut membuatku tenang
tersenyum aku bersama langit biru.....
tersentak aku ternyata sanagat dungu
tak tahu apa tujuanku...???
Akal adalah jebakan manusia dalam pemburuannya di dunia material, mengejar kenikmatan-kenikmatannya. Dia bekerja di atas dasar pengetahuan, penalaran dan hapalan. Ia-pun selalu mencoba mengetahui lautan dan setetes air dengan membedakan keduanya. Akal merupakan pondasi bagi pamer diri dan kepuasan diri. Dan dia mertupoakan perdana mentri yang dipercayai dari suatu pemerintahan ego yang mana sifat-sifat tentaranya disusun oleh ego dan hasil cipta orang lain.
Hati adalah tali pengikat Tuhan yang menarik orang kepada kebenaran-kebenaran dunia sepiritual dan suber keesaan. Dia bekerja di atas dasar wawasan dan perasaan, yang mengubah setetes air menjadi laut. Hati merupakan subtansi dari pengorbanan diri dan kefakiran, dan dialah pasukan tertinggi dari pasukan ruh (panglima) yang mana sifat-sifat tentaranya dibentuk oleh ruh dan penemuan ilmiah. Pada orang-orang tertentu, mungkin saja beberapa tentara hati melayani akal sementara tetap meyakini dan setia kepada ruh. Dalam medannya, akal adalah penasehat yang melindungi kepentingan-kepentingan ego. Sementara hati adalah obor isyarat seorang panglima yang menaruh eksistensi di atas obor.
By -->> Dr. Javad Nurbakhsh (Nur 'Ali Shah) faqir zulfiqar ahmad naqshbandi
Aq benci pada mereka yang suka menyanjung dan memuji_q...
Aq suka pada mereka yang membeci dan memusuhi_q,,,sebab mereka selalu jujur pada_q,,,dan karena mereka-lah aq mampu mengerti Siapa Diri_Q.