Suka Filsafat? Masuk Kemari

MAU DOLAR GRATIS? masuk sini

FILSAFAT MODERN; EMPIRISME (Francis Bacon, Thomas Hobbes, John Locke dan David Hume)




I. PENDAHULUAN

Para pemikir di Inggris bergerak ke arah yang berbeda dengan tema yang telah dirintis oleh Descartes. Mereka lebih mengikuti Jejak Francis Bacon, yaitu aliran empirisme.[1] Empirisme adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan pengetahuan itu sendiri dan mengecilkan peran akal. Istilah empirisme diambil dari bahasa yunani empeiria yang berarti pengalaman. Sebagai suatu doktrin, empirisme adalah lawan rasionalisme. Akan tetapi tidak berarti bahwa rasionalisme ditolak sama sekali. Dapat dikatakan bahwa rasionalisme dipergunakan dalam kerangka empirisme, atau rasionalisme dilihat dalam bingkai empirisme.[2]
Orang pertama pada abad ke-17 yang mengikuti aliran empirisme di Inggris adalah Thomas Hobbes (1588-1679). Jika Bacon lebih berarti dalam bidang metode penelitian, maka Hobbes dalam bidang doktrin atau ajaran. Hobbes telah menyusun suatu sistem yang lengkap berdasar kepada empirisme secara konsekuen. Meskipun ia bertolak pada dasar-dasar empiris, namun ia menerima juga metode yang dipakai dalam ilmu alam yang bersifat matematis. Ia telah mempersatukan empirisme dengan rasionalisme matematis. Ia mempersatukan empirisme dengan rasionalisme dalam bentuk suatu filsafat materialistis yang konsekuen pada zaman modern.
Aliran empirisme dibangun oleh Francis Bacon (1210-1292) dan Thomas Hobes (1588-1679), namun mengalami sistematisasi pada dua tokoh berikutnya, John Locke dan David Hume.
II. PEMBAHASAN
A. Sir Francis Bacon (1561-1626)
Francis Bacon, Viscount St Alban pertama (lahir 22 Januari 1561, wafat 9 April 1626) adalah seorang filsuf, negarawan dan penulis Inggris. Ia juga dikenal sebagai pendukung Revolusi Sains. Bahkan, menurut John Aubrey, dedikasinya menggabungkannya ke dalam sebuah kelompok ilmuwan yang bersejarah yang meninggal dunia akibat eksperimen mereka sendiri.
Francis Bacon dianugerahi gelar ksatria (Sir) pada tahun 1603, diangkat menjadi Baron Verulam di tahun 1618, dan menjadi Viscount St. Alban di tahun 1621. Tanpa keturunan, kedua gelar kebangsawanan tersebut hilang pada saat kematiannya. Ia menerima julukan sebagai pencipta esai Inggris.[3]
Meskipun bukan seorang ilmuwan praktis, Bacon dianggap sebagai "bapak ilmu pengetahuan modern" oleh banyak sejarawan. Filsafat dan tulisannya sangat berpengaruh dalam mengobarkan revolusi ilmu pengetahuan pada abad ke-17. Banyak kaum cendekiawan seperti Robert Boyle dan Isaac Newton menerima "filsafat baru" Bacon yang menekankan empirisme (teori yang menyatakan bahwa pengetahuan hanya dapat diperoleh dengan pengalaman langsung) dan induksi. Setelah menampik ketergantungannya pada pendapat para ahli [sebelumnya] seperti Aristoteles, ilmu pengetahuan baru semakin merebak ke permukaan dan memunculkan banyak sekali penemuan baru yang terus bertambah hingga kini. Namun "filsafat baru" ini sama sekali bukan hal yang baru; karena hal ini sudah ada dalam Alkitab. Sang "bapak ilmu pengetahuan modern" ini adalah seorang Kristen yang percaya kepada Alkitab dan yang menjadikan doktrin Kristen sebagai dasar pemikirannya.
John Henry, profesor ilmu sejarah dari Universitas Edinburg menulis biografi Bacon yang berjudul "Knowledge is Power: How Magic, the Government and an Apocalyptic Vision Inspired Francis Bacon to Create Modern Science." (2002) Henry menyatakan bahwa Sir Francis Bacon "menemukan ilmu pengetahuan modern" karena terinspirasi oleh ketiga hal ini: "magis" (baca: iman Kristen), "penguasa" (baca: pengetahuan untuk kebaikan manusia), dan "visi apokaliptik" (artinya, kepercayaan harfiah akan nubuatan Daniel dalam Daniel 12:4, "Banyak orang akan menyelidikinya, dan pengetahuan akan bertambah"). Buku ini memperjelas hubungan Bacon dan Alkitab.
Dalam sebuah ulasan buku ini yang ditulis 22 Agustus 2002 pada majalah Nature, Alan Stewart berkata, "Bacon begitu yakin bahwa dia hidup pada suatu masa saat pengetahuan semakin bertambah seperti yang dikatakan dalam Alkitab". Stewart melanjutkan, "Mungkin bagian yang paling menarik dari buku ini adalah bagian yang membahas tentang istilah 'magis' Bacon, yang diartikan Henry sebagai agama. Dalam buku ini dia membuat lebih banyak alasan yang meyakinkan ketimbang menelisik fondasi filsafat Bacon secara mendalam." Perlu diperhatikan, baik Stewart maupun Henry bukanlah ahli apologetika Kristen, namun keduanya mengakui bahwa Alkitab memiliki dampak langsung terhadap revolusi ilmu pengetahuan. Ibarat percikan api dalam sekring, Alkitab mengobarkan impian akan sebuah peralatan baru dalam benak Bacon, sebuah "Novum Organum", yang bisa menuntun kepada peningkatan pengetahuan, persis seperti yang disebutkan Alkitab tentang akhir zaman.
Inti filsafat Bacon adalah metode induksi: berlawanan dengan metode deduksi untuk memahami sifat alam semesta seperti yang dilakukan para ahli [sebelumnya] seperti Aristoteles dan Galen, ilmuwan harus membangun teori dari nol, mengumpulkan fakta-fakta, mengukur sesuatu, mengumpulkan dan menyusun bukti-bukti pengamatan, kemudian membuat hipotesa untuk menjelaskannya.
Lalu, apakah itu otoritas Alkitab? Bagi Francis Bacon, Alkitab menunjukkan cara pandang terhadap Allah, dunia, dan manusia yang menerima ilmu pengetahuan sebagai mandat yang terhormat. Alam ini adalah mesin canggih yang dibuat oleh Allah, dan Allah memberi manusia kecerdasan dan tugas untuk menemukan kegunaannya. Akal manusia saja tidak cukup; akal perlu dipandu oleh doktrin Alkitab tentang natur Allah dan dunia, dan dengan penyelidikan hukum-hukum sang Pencipta. Keyakinan akan hukum-hukum alam adalah warisan Alkitab. Sir Francis percaya bahwa dalam penggenapan nubuatan Daniel, pada akhir zaman pengetahuan manusia akan bertambah-tambah dengan menggulingkan para ahli yang tidak alkitabiah seperti Aristoteles dan dengan menyelidiki penyataan umum Allah (penciptaan) dengan pikiran-pikiran yang telah diciptakan seturut gambar-Nya.
Coba perhatikan kembali dasar alkitabiah dari ketiga filsafat Bacon yang digambarkan dalam judul buku biografi Henry:
1. "magis" (pilihan kata yang disayangkan), maksudnya kepercayaan beragama yang Stewart sebut "fondasi terdalam" filsafat Bacon,
2. "penguasa", yaitu tanggung jawab yang Tuhan berikan kepada pemerintah untuk bertindak bagi kebaikan manusia, dan
3. "visi apokaliptik," keyakinan bahwa nubuatan Daniel dapat menginspirasi kita untuk mengembangkan pengetahuan untuk kebaikan umat manusia.
Walaupun Alkitab tidak memberikan sebuah metode ilmiah, Alkitab memberikan pandangan dasar tentang Allah, manusia, dan dunia yang memungkinkan adanya perkembangan ilmiah. "Besar perbuatan-perbuatan TUHAN," kata penulis Mazmur 111:2, "layak diselidiki oleh semua orang yang menyukainya."
Francis Bacon bukanlah seorang skeptis sembunyi-sembunyi; baginya Alkitab merupakan kunci untuk membebaskan manusia dari pemikiran para ahli yang salah dan kitab Kejadian mendorong kita untuk melakukan tugas kita dengan sungguh-sungguh sebagai pengurus ciptaan-Nya. Termasuk mempelajari ilmu pengetahuan. Dia menganggap paham ateis sebagai paham kaum tidak terpelajar: "Filsafat yang dangkal menarik pikiran manusia ke arah ateisme," ejeknya, "namun filsafat yang dalam membawa pikiran manusia ke arah kepercayaan." (Bagi orang yang hidup pada zaman Ratu Elizabeth, agama sama artinya dengan kekristenan.) Senada dengan itu, katanya "Filsafat, jika tidak dipelajari dengan sungguh-sungguh, membangkitkan keraguan; tapi jika didalami dengan sungguh-sungguh, akan menghilangkan keraguan." Bagi Bacon, ilmu pengetahuan merupakan suatu tindakan penyembahan [kepada Allah] dan perisai terhadap kekeliruan. Dia berkata, "Ada dua kitab yang diletakkan di hadapan kita untuk dipelajari agar kita terhindar dari kesalahan: pertama, Alkitab yang menyingkapkan kehendak Allah; yang kedua adalah kitab tentang ciptaan-Nya yang menyatakan kuasa-Nya."
Orang lebih mengingat Sir Francis Bacon karena gagasan-gagasannya. Dia lahir di London tahun 1561 setelah Elizabeth I naik tahta, ketika masyarakat Inggris mengalami kemajuan yang drastis. Ia hidup sezaman dengan Galileo, Shakespeare, Sir Walter Raleigh, dan Sir Francis Drake. Bacon tidak bekerja sebagai ilmuwan tapi sebagai pengacara dan politisi, menjadi pengacara tahun 1582 dan anggota DPR Inggris tahun 1584. Dia diberi gelar ksatria [Sir] pada masa pemerintahan raja baru, James I, tahun 1603 dan kemudian menjadi Wakil Jaksa Agung, Jaksa Agung, dan menjelang 1618 menjadi Hakim Agung. Sayangnya, tahun 1621 reputasinya rusak karena kasus suap. Meskipun dia harus berjuang di hadapan raja dan parlemen, dia mengakui kesalahannya dan harus mengundurkan diri dengan rasa malu. Dia lahir ke dunia tanpa membawa apa-apa; masa mudanya sangat miskin, dan pada hari tuanya kehilangan keberuntungan dan reputasi. Dia meninggal tahun 1626 ketika melakukan percobaan pembuktian. Secara keseluruhan, hidup dan karier Bacon hampir tidak menonjol; karakter pribadinya "sama sekali tidak mengagumkan," menurut Frederic R. White. Dia tidak membuat penemuan yang signifikan dan tidak menciptakan hukum ilmiah. Akan tetapi gagasannya yang mendalam mencerminkan kedalaman dan kejeniusan pikiran.
Bacon adalah seorang filsuf urutan pertama yang memengaruhi peradaban Barat selama berabad-abad meskipun selama hidupnya ia dikritik terus-menerus oleh para filsuf lain. Dia menganggap orang-orang yang mengkritiknya itu "Orang-orang cerdas yang terkurung oleh beberapa penulis, khususnya Aristoteles, sang Diktator mereka." Daripada mengulangi ide-ide lama dengan metode deduktif, Bacon lebih mengusulkan "penyelidikan baru," misalnya, mengumpulkan bukti melalui percobaan kemudian membuat interpretasi daripada membuat deduksi natur (sifat) suatu hal dari bentuk dan prinsip universal. Ensiklopedia Britannica menjelaskan bahwa dia bukan sembarang penganut empirisme; dia percaya pada perumusan hukum dan penyamarataan; "Akan tetapi tempat abadinya dalam sejarah filsafat dunia terletak pada kebulatan tekadnya bahwa pengalaman adalah satu-satunya sumber ilmu pengetahuan dan semangatnya yang besar demi sempurnanya ilmu pengetahuan alam”.[4]
B. Thomas Hobbes (1588-1679)
Menurut Hobbes, filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan yang bersifat umum, sebab filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan tentang efek-efek atau akibat-akibat, atau tentang penampakan-panampakan yang kita peroleh dengan merasionalisasikan pengetahuan yang semula kita miliki dari sebab-sebabnya atau asalnya. Sasaran filsafat adalah fakta-fakta yang diamati untuk mencari sebab-sebabnya. Adapun alatnya adalah pengertian-pengertian yang diungkapkan dengan kata-kata yang menggambarkan fakta-fakta itu. Di dalam pengamatan disajikan fakta-fakta yang dikenal dalam bentuk pengertian-pengertian yang ada dalam kesadaran kita. Sasaran ini dihasilkan dengan perantaraan pengertian-pengertian; ruang, waktu, bilangan dan gerak yang diamati pada benda-benda yang bergerak. Menurut Hobbes, tidak semua yang diamati pada benda-benda itu adalah nyata, tetapi yang benar-benar nyata adalah gerak dari bagian-bagian kecil benda-benda itu. Segala gejala pada benda yang menunjukkan sifat benda itu ternyata hanya perasaan yang ada pada si pengamat saja. Segala yang ada ditentukan oleh sebab yang hukumnya sesuai dengan hukum ilmu pasti dan ilmu alam. Dunia adalah keseluruhan sebab akibat termasuk situasi kesadaran kita.[5]
Sebagai penganut empirisme, pengenalan atau pengetahuan diperoleh melalui pengalaman. Pengalaman adalah awal dari segala pengetahuan, juga awal pengetahuan tentang asas-asas yang diperoleh dan diteguhkan oleh pengalaman. Segala pengetahuan diturunkan dari pengalaman. Dengan demikian, hanya pengalamanlah yang memberi jaminan kepastian.
Berbeda dengan kaum rasionalis, Hobbes memandang bahwa pengenalan dengan akal hanyalah mempunyai fungsi mekanis semata-mata. Ketika melakukan proses penjumlahan dan pengurangan misalnya, pengalaman dan akal yang mewujudkannya. Yang dimaksud dengan pengalaman adalah keseluruhan atau totalitas pengamatan yang disimpan dalam ingatan atau digabungkan dengan suatu pengharapan akan masa depan, sesuai dengan apa yang telah diamati pada masa lalu. Pengamatan inderawi terjadi karena gerak benda-benda di luar kita menyebabkan adanya suatu gerak di dalam indera kita. Gerak ini diteruskan ke otak kita kemudian ke jantung. Di dalam jantung timbul reaksi, yaitu suatu gerak dalam jurusan yang sebaliknya. Pengamatan yang sebenarnya terjadi pada awal gerak reaksi tadi.
Untuk mempertegas pandangannya, Hobbes menyatakan bahwa tidak ada yang universal kecuali nama belaka. Konsekuensinya ide dapat digambarkan melalui kata-kata. Dengan kata lain, tanpa kata-kata ide tidak dapat digambarkan. Tanpa bahasa tidak ada kebenaran atau kebohongan. Sebab, apa yang dikatakan benar atau tidak benar itu hanya sekedar sifat saja dari kata-kata. Setiap benda diberi nama dan membuat ciri atau identitas-identitas di dalam pikiran orang.
Selanjutnya tradisi empiris diteruskan oleh John Locke (1632-1704) yang untuk pertama kali menerapkan metode empiris kepada persoalan-persoalan tentang pengenalan atau pengetahuan. Bagi Locke, yang terpenting adalah menguraikan cara manusia mengenal. Locke berusaha menggabungkan teori-teori empirisme seperti yang diajarkan Bacon dan Hobbes dengan ajaran rasionalisme Descartes. Usaha ini untuk memperkuat ajaran empirismenya. Ia menentang teori rasionalisme mengenai idea-idea dan asas-asas pertama yang dipandang sebagai bawaan manusia. Menurut dia, segala pengetahuan datang dari pengalaman dan tidak lebih dari itu. Peran akal adalah pasif pada waktu pengetahuan didapatkan. Oleh karena itu akal tidak melahirkan pengetahuan dari dirinya sendiri. Pada waktu manusia dilahirkan, akalnya merupakan sejenis buku catatan yang kosong (tabula rasa). Di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pangalaman inderawi. Seluruh pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta membandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama dan sederhana. [6]
Aliran empirisme dibangun oleh Francis Bacon (1210-1292) dan Thomas Hobes (1588-1679), namun mengalami sistematisasi pada dua tokoh berikutnya, John Locke dan David Hume.
a. John Locke (1632-1704)
Ia lahir tahun 1632 di Bristol Inggris dan wafat tahun 1704 di Oates Inggris. Ia juga ahli politik, ilmu alam, dan kedokteran. Pemikiran John termuat dalam tiga buku pentingnya yaitu essay concerning human understanding, terbit tahun 1600; letters on tolerantion terbit tahun 1689-1692; dan two treatises on government, terbit tahun 1690. Aliran ini muncul sebagai reaksi terhadap aliran rasionalisme. Bila rasionalisme mengatakan bahwa kebenaran adalah rasio, maka menurut empiris, dasarnya ialah pengalaman manusia yang diperoleh melalui panca indera. Dengan ungkapan singkat Locke :
Segala sesuatu berasal dari pengalaman inderawi, bukan budi (otak). Otak tak lebih dari sehelai kertas yang masih putih, baru melalui pengalamanlah kertas itu terisi atau yang kita kenal dengan istilah Tabula Rasa.
Tabula Rasa (dari bahasa Latin kertas kosong) merujuk pada pandangan epistemologi bahwa seorang manusia lahir tanpa isi mental bawaan, dengan kata lain "kosong", dan seluruh sumber pengetahuan diperoleh sedikit demi sedikit melalui pengalaman dan persepsi alat inderanya terhadap dunia di luar dirinya.
Gagasan mengenai teori ini banyak dipengaruhi oleh pendapat John Locke di abad 17. Dalam filosofi Locke, tabula rasa adalah teori bahwa pikiran (manusia) ketika lahir berupa "kertas kosong" tanpa aturan untuk memroses data, dan data yang ditambahkan serta aturan untuk memrosesnya dibentuk hanya oleh pengalaman alat inderanya. Pendapat ini merupakan inti dari empirisme Lockean. Anggapan Locke, tabula rasa berarti bahwa pikiran individu "kosong" saat lahir, dan juga ditekankan tentang kebebasan individu untuk mengisi jiwanya sendiri. Setiap individu bebas mendefinisikan isi dari karakternya - namun identitas dasarnya sebagai umat manusia tidak bisa ditukar. Dari asumsi tentang jiwa yang bebas dan ditentukan sendiri serta dikombinasikan dengan kodrat manusia inilah lahir doktrin Lockean tentang apa yang disebut alami.[7]
Menurut Locke, pikiran bukanlah sesuatu yang pasif terhadap segala sesuatu yang datang dari luar. Beberapa aktifitas berlangsung dalam pikiran. Gagasan-gagasan yang datang dari indera tadi diolah dengan cara berpikir, bernalar, mempercayai, meragukan dan dengan demikian memunculkan apa yang dinamakannya dengan perenungan.
Locke menekankan bahwa satu-satunya yang dapat kita tangkap adalah penginderaan sederhana. Ketika kita makan apel misalnya, kita tidak merasakan seluruh apel itu dalam satu penginderaan saja. Sebenarnya, kita menerima serangkaian penginderaan sederhana, yaitu apel itu berwarna hijau, rasanya segar, baunya segar dan sebagainya. Setelah kita makan apel berkali-kali, kita akan berpikir bahwa kita sedang makan apel. Pemikiran kita tentang apel inilah yang kemudian disebut Locke sebagai gagasan yang rumit atau ia sebut dengan persepsi. Dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa semua bahan dari pengetahuan kita tentang dunia didapatkan melalui penginderaan.[8]
Ini berarti bahwa semua pengetahuan kita betapapun rumitnya, dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama yang dapat diibaratkan seperti atom-atom yang menyusun objek-objek material. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu dilacak kembali seperti demikian itu bukanlah pengetahuan atau setidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang faktual.
Di tangan empirisme Locke, filsafat mengalami perubahan arah. Jika rasionalisme Descartes mengajarkan bahwa pengetahuan yang paling berharga tidak berasal dari pengalaman, maka menurut Locke, pengalamanlah yang menjadi dasar dari segala pengetahuan. Namun demikian, empirisme dihadapkan pada sebuah persoalan yang sampai begitu jauh belum bisa dipecahkan secara memuaskan oleh filsafat. Persoalannya adalah menunjukkan bagaimana kita mempunyai pengetahuan tentang sesuatu selain diri kita dan cara kerja pikiran itu sendiri.[9]
b. David Hume (1711-1776).
David Hume lahir di Edinburg Scotland tahun 1711 dan wafat tahun 1776 di kota yang sama. Hume seorang nyang menguasai hukum, sastra dan juga filsafat. Karya tepentingnya ialah an encuiry concercing humen understanding, terbit tahun 1748 dan an encuiry into the principles of moral yang terbit tahun 1751.
Pemikiran empirisnya terakumulasi dalam ungkapannya yang singkat yaitu I never catch my self at any time with out a perception (saya selalu memiliki persepsi pada setiap pengalaman saya). Dari ungkapan ini Hume menyampaikan bahwa seluruh pemikiran dan pengalaman tersusun dari rangkaian-rangkaian kesan (impression). Pemikiran ini lebih maju selangkah dalam merumuskan bagaimana sesuatu pengetahuan terangkai dari pengalaman, yaitu melalui suatu institusi dalam diri manusia (impression, atau kesan yang disistematiskan ) dan kemudian menjadi pengetahuan. Di samping itu pemikiran Hume ini merupakan usaha analisias agar empirisme dapat di rasionalkan teutama dalam pemunculan ilmu pengetahuan yang di dasarkan pada pengamatan “(observasi ) dan uji coba (eksperimentasi), kemudian menimbulkan kesan-kesan, kemudian pengertian-pengertian dan akhirnya pengetahuan, rangkaian pemikiran tersebut dapat di gambarkan sebagai berikut:
Beberapa Jenis Empirisme:
1. Empirio-kritisisme
Disebut juga Machisme. ebuah aliran filsafat yang bersifat subyaktif-idealistik. Aliran ini didirikan oleh Avenarius dan Mach. Inti aliran ini adalah ingin “membersihkan” pengertian pengalaman dari konsep substansi, keniscayaan, kausalitas, dan sebagainya, sebagai pengertian apriori. Sebagai gantinya aliran ini mengajukan konsep dunia sebagai kumpulan jumlah elemen-elemen netral atau sensasi-sensasi (pencerapan-pencerapan). Aliran ini dapat dikatakan sebagai kebangkitan kembali ide Barkeley dan Hume tatapi secara sembunyi-sembunyi, karena dituntut oleh tuntunan sifat netral filsafat. Aliran ini juga anti metafisik.
2. Empirisme Logis
Analisis logis Modern dapat diterapkan pada pemecahan-pemecahan problem filosofis dan ilmiah. Empirisme Logis berpegang pada pandangan-pandangan berikut :
a) Ada batas-batas bagi Empirisme. Prinsip system logika formal dan prinsip kesimpulan induktif tidak dapat dibuktikan dengan mengacu pada pengalaman.
b) Semua proposisi yang benar dapat dijabarkan (direduksikan) pada proposisi-proposisi mengenai data inderawi yang kurang lebih merupakan data indera yang ada seketika.
c) Pertanyaan-pertanyaan mengenai hakikat kenyataan yang terdalam pada dasarnya tidak mengandung makna.
3. Empiris Radikal
Suatu aliran yang berpendirian bahwa semua pengetahuan dapat dilacak sampai pada pengalaman inderawi. Apa yang tidak dapat dilacak secara demikian itu, dianggap bukan pengetahuan. Soal kemungkinan melawan kepastian atau masalah kekeliruan melawan kebenaran telah menimbulkan banyak pertentangan dalam filsafat. Ada pihak yang belum dapat menerima pernyataan bahwa penyelidikan empiris hanya dapa memberikan kepada kita suatu pengetahuan yang belum pasti (Probable). Mereka mengatakan bahwa pernyataan- pernyataan empiris, dapat diterima sebagai pasti jika tidak ada kemungkinan untuk mengujinya lebih lanjut dan dengan begitu tak ada dasar untukkeraguan. Dalam situasi semacam iti, kita tidak hanya berkata: Aku merasa yakin (I feel certain), tetapi aku yakin. Kelompok falibisme akan menjawab bahwa: tak ada pernyataan empiris yang pasti karena terdapat sejumlah tak terbatas data inderawi untuk setiap benda, dan bukti-bukti tidak dapat ditimba sampai habis sama sekali.[10]
III. KESIMPULAN
Empirisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang berpendapat bahwa empiri atau pengalamanlah yang menjadi sumber pengetahuan. Akal bukanlah sumber pengetahuan, akan tetapi akal berfungsi mengolah data-data yang diperoleh dari pengalaman. Metode yang digunakan adalah metode induktif. Jika rasionalisme menonjolkan “aku” yang metafisik, maka empirisme menonjolkan “aku” yang empiris.
Empirisme adalah aliran ilmu pengetahuan dan filsafat yang berdasarkan metode empiris, yaitu bahwa semua pengetahuan didapat dengan pengalaman. Bahan yang diperoleh dari pengalaman diolah oleh akal, dan dijadikan sebagai sumber pengetahuan karena pengalamanlah yang memberikan kepastian yang diambil dari dunia fakta. Empirisme berpandangan bahwa pernyataan yang tidak dapat dibuktikan melalui pengalaman adalah tidak berarti atau tanpa arti. Ilmu harus dapat diuji melalui pengalaman, dengan demikian kebenaran yang diperoleh bersifat aposteriori yang berarti setelah pengalaman (post to experience).
Filsuf empirisme David Hume (1711-1776), melakukan pembedaan antara kesan dan ide. Kesan merupakan penginderaan langsung atas realitas lahiriah, sementara ide adalah ingatan atas kesan-kesan. Menurutnya, kesan selalu muncul lebih dahulu, sementara ide sebagai pengalaman langsung tidak dapat diragukan. Dengan kata lain, karena ide merupakan ingatan atas kesan-kesan, maka isi pikiran manusia tergantung kepada aktivitas inderanya. Hume seperti layaknya filsuf Empirisme lainnya menganut prinsip epistemologis yang berbunyi, “nihil est intelectu quod non antea fuerit in sensu” yang berarti, “tidak ada satu pun ada dalam pikiran yang tidak terlebih dahulu terdapat pada data-data inderawi”.
Tokoh-tokoh empirisme lainnya antara lain Francis Bacon (1561-1626), dan Thomas Hobbes (1588-1679). Francis Bacon telah meletakkan dasar-dasar empirisme dan menyarankan agar penemuan-penemuan dilakukan dengan metode induksi. Menurutnya ilmu akan berkembang melalui pengamatan dalam ekperimen serta menyusun fakta-fakta sebagai hasil eksperimen. Pandangan Thomas Hobbes sangat mekanistik, karena merupakan bagian dari dunia, apa yang terjadi pada manusia atau yang dialaminya dapat diterangkan secara mekanik. Ini yang menyebabkan Thomas Hobbes dipandang sebagai penganjur materialisme. Sesuai dengan kodratnya manusia berkeinginan mempertahankan kebebasan dan menguasai orang lain. Hal ini menyebabkan adanya ungkapan homo homini lupus yang berarti bahwa manusia adalah serigala bagi manusia lain.
IV. PENUTUP
Demikian yang dapat kami sampaikan. Sedikit banyak semoga bisa menambah wawasan keilmuan kita. Kurang lebihnya mohon maaf, kritik dan saran kami harapkan dari semua pihak guna penyempurnaan makalah kami.
Wallahulmuwaffiq ila aqwamitthoriq
DAFTAR PUSTAKA
Bambang Q-Anees dan Radea Juli A. Hambali, Filsafat Untuk Umum, Jakarta: Prenada Media, 2003
Hadiwijono, Harun, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta: Kanisius, 1993
Tafsir, Ahmad, Filsafat Umum, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1998
http://id.wikipedia.org/wiki/Francis_Bacon, dikutip pada hari sabtu, 12 Mei 2010 pukul 15.10 wib
http://biokristi.sabda.org/sir_francis_bacon, dikutip pada hari sabtu, 12 Mei 2010 pukul 01.20 wib
http://id.wikipedia.org/wiki/Tabula_rasa, dikitup pada hari sabtu 15 Mey 2010 pukul 14.40 wib
http://masdiloreng.wordpress.com/2009/03/22/empiriseme, dikutip pada hari sabtu, 12 Mei 2010 pukul 01.10 wib



[1] Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2 (Cet. IX; Yogyakarta: Kanisius, 1993), hlm 31
[2] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum (Cet. VI; Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1998), hlm 173
[3] http://id.wikipedia.org/wiki/Francis_Bacon, dikutip pada hari sabtu, 12 Mei 2010 pukul 15.10 wib
[4] http://biokristi.sabda.org/sir_francis_bacon, dikutip pada hari sabtu, 12 Mei 2010 pukul 01.20 wib
[5] Harun Hadiwijono, op. cit., hlm 32.
[6] Harun Hadiwijono, op. cit., hlm 36
[7] http://id.wikipedia.org/wiki/Tabula_rasa, dikitup pada hari sabtu 15 Mey 2010 pukul 14.40 wib
[8] Bambang Q-Anees dan Radea Juli A. Hambali, selanjutnya disebut Bambang, Filsafat Untuk Umum (Cet. I; Jakarta: Prenada Media, 2003), hlm 334
[9] Bambang, op. cit., hlm 335
[10] http://masdiloreng.wordpress.com/2009/03/22/empiriseme, dikutip pada hari sabtu, 12 Mei 2010 pukul 01.10 wib



Labels : wallpapers Mobile Games car body design Hot Deal

BATAS-BATAS KEBEBASAN MANUSIA DAN KEHENDAK MUTLAK TUHAN




I. PENDAHULUAN
Keinginan manusia untuk hidup dengan bebas merdeka merupakan salah satu keinginan insani yang amat mendasar. Maka tidak mengerankan bahwa masalah kebebasan sudah banyak disoroti dalam tulisan-tulusan di pelbagai bidang. Kebebasan warga Negara dibicarakan dengan hangat dalam bidang politik. Dunia ekonomi mengenal pasaran bebas. Di bidang pendidikan pun kebebasan anak didik sering kali meenjadi pusat perhatian. Dan juga di lingkungan kehakiman, misalnya berhubungan dengan rumah-rumah tahanan, masalah kebebasan tak mungkin diabaikan.
Adakah hubungan yang niscaya antara kesadaran akan kebebasan di satu pihak dan kesadaran akan keterbatasan di lain pihak? Dengan hubungan “niscaya” dimaksudkan hubungan yang tak dapat tidak ada. Maka timbul pertanyaan apakah keterbatasan itu termasuk hakekat kebebasan? Dan juga dipersoalkan apakah sebuah kebebasan yang tak terbatas itu mungkin atau tidak?
Tak dapat disangkal bahwa pengalaman akan keterbatasan merupakan salah satu komponen di dalam pengalaman kita akan kebebasan.
II. POKOK PEMBAHASAN
1. Apa Pengertian Kebebasan?
2. Masalah Kebebasan: Soal Filsafat Ataukah Soal Teologi ?
3. Masalah Koeksistensi: Apakah Kebebasan Atau Ketergantungan Transendental ?
III. PEMBAHASAN
A. Pengertian Kebebasan
Pada dirinya sendiri kata “bebas” tidaklah jelas artinya. Dari pemakaian kata ini terlihat bahwa kata ini bias menunjukkan kenyataan-kenyataan yang berbeda-beda, bahkan dapat bertentangan satu sama lain. Namun semua kenyataan itu ditunjukkan dengan satu kat yang sama karena memang terdapat kesamaan juga, yakni keadaan tiadanya penghalang, paksaan, beban atau kewajiban. Kiranya keadaan inilah yang merupakan arti paling umum dan mendasar yang dimiliki istilah “kebebnasan”.[1]
Jadi dalam arti khusus ini, “kebebasan” merupakan suatu kemampuan manusia, khususnya kemampuan untuk memberikan arti dan arahkepada hidup dan karyanya; pun pula kemampuan untuk menerima atau menolak kemungkinan-kemungkinan dan nilai-nilai yang terus-menerus ditawarkan kepada kita oleh hal ihwal kehidupan.[2]
B. Masalah Kebebasan- (Soal Filsafat Ataukah Soal Teologi?)
    1. Yohanes Duns Scotus (1266-1308)
Scotus mengajukan pertanyaan apakah manusia dapat "memilih" (dalam arti: menjatuhkan putusan) dengan bebas. Kalau pertanyaan diajukan secara demikian, maka yang dipertanyakan kebebasannya ialah putusan. Scotus memberi jawaban afirmatif, baik berdasarkan iman kepercayaannya maupun berdasarkan pertimbangan filosofis. Setelah manusia (pertama) jatuh dalam dosa, ia tetap dianugerahi dengan kebebasan. Ini memang kebenaran !man, tetapi demikian Scotus kebenaran ini dapat juga di­tangkap oleh akal budi yang alamiah, sebab: "kita alami bahwa kita dapat mengejar ataupun tidak mengejar objek mana pun juga". Walaupun Scotus beranggapan bahwa manusia itu bebas karena berakal budi, namun alasan yang lebih mendalam mengapa manusia itu bebas tidak terletak dalam “indifferentia iudicii" melainkan dalam "indifferentia voluntafis".
Yang di­ maksudkan dengan istilah "indifferentia" yaitu keadaan batin manusia yang "tak tentu" belum ditentukan oleh akal budi mana yang benar. A atau B, tetapi juga belum ditentukan oleh kemauan mana yang diinginkan dan dipilihnya. A atau B. Selama akal budi belum memutuskan mana Yang benar, mana tidak benar, terdapat "indifferentia iudicii": belum ada ke­putusan mengenai nilai yang dihadapkan kepada akal budi. Begitu pula selama kehendak belum menentukan nilai manakah yang mau dikejarnya, masih terdapat "indifferentia voluntatis". Nah, dengan menyatakan bahwa dasar kebebasan bukan pertama-tama indiferensi putusan melainkan terutama indiferensi kehendak, Scotus mempunyai pendirian yang juga penting bagi, hakikat kebebasan. Sebab pendirian ini berarti bahwa pe­nilaian dan pengertian yang kita punyai tentang nilai "A" dan nilai "B" tidak membawa kepada preferensi bag, yang satu, lebih daripada bagi yang lain. Dalam filsafat Scotus kehendak merupakan kemampuan yang lebih sempurna daripada intelek.
Realitas tidak dapat tereduksi menjadi suatu system hokum. Besarnya dunia indra menjadikan penjelasan lengkap apapun menjadi mustahil.[3]
    1. Gulielmus (William) dari Ockham (1285-1349)
Seperti Scotus begitu pula Ockham menjawab positif atas pertanyaan apakah manusia bebas (dalam anti: mempunyai kehendak yang bebas). Dan Ockham pun, menunjuk kepada pengalaman untuk mempertanggungjawabkan keyakinannya ini. Tetapi sekaligus ia be pendapat bahwa kebebasan itu tidak dapat dibuktikan.
Di satu. pihak Ockham menegaskan bahwa dipandang secara filosofis kebebasan insani tidak dapat dibuktikan, karena dalam usaha membuktikan kebebasan, tidaklah tersedia premis-premis yang dikenal dengan lebih baik daripada apa yang mau dibuktikan. Dalam membuktikan sesuatu, orang beralih dari hal-hal terkenal kepada yang tak terkenal. Tetapi dalam hal kebebasan, "setiap pembuktian rasional bertolak dan premis­-premis yang sama-sama patut diragukan dan lama-sama tak terkenal seperti konklusinya (yaitu kebebasan) atau lebih lagi". Dengan kata lain, dalam hal kebebasan itu derajat kepastian yang dimiliki oleh titik tolak jalan pembuktian, tidaklah lebih tinggi daripada derajat kepastian konklusi.
Di lain pihak Ockham mengatakan pula bahwa kebebasan dikenal dengan terang nyata melalui pengalaman, "per experientiaim " (bdk. Scotus: "immo experimur"). Lagi pula, seandainya tidak ada kebebasan maka lenyaplah juga segala sesuatu yang bersifat kebetulan ("contingency"). "Satu-satunya yang bebas ialah kehendak", demikian Ockham.
    1. Petrus (= Pietro) Pomponazzi (1462-1525)
Berkenaan dengan masalah kebebasan, dilihat dari segi filsafat, hanya ada satu ajaran yang konsekuen, kata Pomponazzi, yakni ajaran kaum Stoa. Menurut mazhab Stoa, kebebasan merupakan keaktifan batin semata-mata. Hanya dalam batinnya saja manusia bebas untuk menerima atau tidak menerima "peristiwa alam raya", yang terjadi dengan keharusan dan secara niscaya. Sikap manusia terhadap peristiwa dunia sama sekali tidak mempunyai pengaruh terhadap jalannya peristiwa itu sendiri yang sudah ditentukan seluruhnya sejak semula. Entah manusia menerimanya entah tidak, ia toh tak dapat mengubah apa-apa.
Bagi Pomponazzi, pendapat orang Kristen bersifat kontradiksi. Menurut agama kristiani (seperti juga menurut agama Yahudi dan agama Islam) segala sesuatu yang terjadi di dunia ini diselenggarakan oleh Tuhan dan ditentukan oleh-Nya (kausalitas ilahi bersifat transendental), tetapi kendati demikian manusia toh bebas juga. Memandang pendapat ini se­bagai kontradiksi, Pomponazzi berkata bahwa kita harus konsekuen dalam pemikiran kita dan secara filosofis menerima bahwa segala sesuatu di­kuasai oleh nasib dan oleh penentuan Penyelenggaraan Ilahi ("Takdir"). Apa saja yang dilakukan manusia itu ditentukan oleh nasib.
Maka Pomponazzi berkesimpulan bahwa secara filosofis tidak ada soal lagi: "Pendapat kaum Stoa rupanya lebih masuk akal daripada pendapat kaum Kristen". Jadi, ajaran Stoa itu ajaran yang tepat mengenai masalah kebenaran, demikian Pomponazzi. Tetapi ajaran ini bertentangan dengan ajaran agama kristiani. Dan karena Pomponazzi menganut agama Kristen, ia tidak dapat menerima Stoisisme. Dengan kata lain, ia ber­pendirian bahwa kebenaran bersifat ganda: ada kebenaran filosofis dan ada kebenaran iman.
Persepsi tidak harus melibatkan kesadaran. Perlu diingat bahwa Lebniz menggunakan kata tersebut dengan cara yang agak membingungkan. Bagi Whitehead, setiap entitas actual. Baik ia berupa electron maupun seorang filsuf, ia memiliki kutub mental dan fisik.[4]
C. Masalah Koeksistensi Antara Kebebasan dan Ketergantungan Transendental
Di dunia ini adakah pengetahuan yang begitu pasti sehingga tidak seorang pun manusia berakal dapat meragukannya? Pertanyaan ini, yang sekilas tidak terlalu sulit, sebenarnya merupakan pertanyaan paling sulit yang dapat ditanyakan.[5]
Yang dimaksud dengan “ ketergantungan transebdental” ialah ketergantungan dalam hal ADA, yaitu tergantung pada suatu prinsip kreatif, kepada Allah pencipta. Cirri khas sebuah ketergantungan yang bersifat transcendental yaitu cirri “menyeluruh”. Ketergantungan semacam itu mencakup dan meliputi semuanya. Segala sesuatu di dunia ini, termasuk manusia, dilingkungi dan dilingkupi oleh suatu penyebab kreatif, yang kausalitasnya bersifat integral.
Filsafat modern mengajukan pertanyaan, apakah kebebasan manusiawi masih mungkin kalau orang menerima bahwa ada Allah yang transenden dan kreatif? Mungkinkah sebuah kebebasan-di-dalam-ketegantungan-total? Mungkinkah bahwa manusia merupakan asal-usul keberadaannya sendiri dan asal-usul pembinaan dirinya, jika ia pada setiap saat secara total tergantung pada suatu penyebab transenden yang menjadi kausalitas transcendental?
1. "God is dead" Movement”
Sejumlah ahli filsafat maupun teologi abad ini, terutama di Amerika Serikat, umumnya ditunjukkan dengan julukan: "God is dead" move­ment. Pengaruh mereka paling terasa pada tahun enampuluhan abad ini. Termasuk gerakan ini tokoh-tokoh seperti Altizer, Hamilton, Van Buren, Vaughanian. Juga karangan uskup anglikan John A.T. ROBINSON, "Honest to God", yang 20 tahun yang lalu sangat populer, dipengaruhi oleh gerakan "Allah telah mati".
Altizer berpendapat bahwa ide tentang Allah yang. transenden itu harus kita lepaskan seluruhnya. Pendirian ini dipertanggungjawabkannya dengan mengatakan bahwa karena penjelmaan Firman Allah menjadi manusia, maka Allah sendiri telah melepaskan transendensi-Nya. Pada hemat Altizer terdapat perbedaan fundamental antara Allah Perjanjian Lama dengan Allah Perjanjian Baru. Yang permana itu jauh dari manusia, jauh mengatasinya, maka "transenden", tetapi yang terakhir itu tidak lagi demikian: Ia sudah memasuki sejarah umat manusia. Justru demi untuk merasuki sejarah dan untuk menjadi manusia bersama dengan manusia, maka Allah telah meninggalkan kejauhan serta transendensi-Nya. Menurut Altizer, orang baru sungguh-sungguh menerima Penjelmaan apabila memandangnya begitu. Akan tetapi argumentasi teologis ini mempunyai suatu latar belakang filosofis, yaitu keprihatinan supaya kepada eksistensi manusia diberi nilainya yang penuh. Dalam kepenuhannya, keberadaan manusiawi tak dapat diperdamaikan dengan transendensi Allah. Daripada aku menjadi diriku sendiri, sebab Ia membuat pada setiap saat bahwa aku menjadi diriku sendiri.
2. Merleau-Ponty dan Sartre
Dua pemikir Perancis ini: filsuf eksistensialis Jean-Paul Sartre (1905­-1980) dan pemikir fenomenologi Maurice Merleau-Ponty (1909-1961) memang jelas berkeyakinan bahwa manusia merupakan makhluk yang bebas, makhluk yang sendiri merupakan prinsip keberadaannya dan yang membangun hidupnya secara otonom. Tapi justru demi kebebasan ma­nusia itu mereka menyangkal adanya Wujud yang mutlak, niscaya dan kreatif. Menurut Sartre dan Merleau-Ponty, keberadaan insani dalam ke­padatannya yang penuh, sulit diperdamaikan dengan adanya Wujud yang demikian. Penyebab yang kreatif, niscaya dan absolut itu meniadakan dan menghancurkan aku seluruhnya. Kausalitas yang kreatif itu bersifat menyeluruh dan sebagai "ens necessarium" (ada yang niscaya) Ia meniadakan kontinggensiku, sifat "tak terramalkan" yang ada padaku. Maka kelakuanku tidak, memiliki keaslian lagi. Pun pula Penyebab kreatif itu bersifat mutlak: "ens absolutum", sehingga tidak ada kenisbian apa pun di dalam-­Nya. Kalau begitu pengetahuan pun bersifat mutlak, sehingga segala sesuatu telah diketahui. Tidak tinggal sesuatu pun bagiku untuk kucari. Aku hanya menemukan hal-hal yang sudah diketahui.[6]
IV. KESIMPULAN
Berdasarkan gejala seperti ragu-ragu dan tertegun yang dialami manusia dalam bertindak, kita harus mengatakan bahwa sebuah tindakan insani yang konkret tidak pernah bersifat atau bebas atau determinasi. Gejala tersebut menjadi petunjuk bahwa kebebasan manusia tidak absolute (berlainan dengan pendapat Sartre) dan determinisme pun tidak mutlak (berlainan dengan anggapan kaum determinis). Baik positivitas maupun negativitas yang keduanya menandai eksistensi, tidak boleh dimutlakan. Kedua-duanya terdapat pada manusia secara terjalin dan mengkonstitusi manusia sebagai gerak tradisional.
Gambaran kebebasan yang dimunculkan dalam buku ini ialah kebebasan sebagai kesadaran diri manusia dalam pelaksanaan diri. Memang, secara abstrak dan umum, kebebasan kemauan terletak dalam kemungkinan untuk memilih ini atau itu, baik atau buruk. Akan tetapi secara konkret dan eksistensial, kebebasan ini berkembang menjasi lebih dari pada hanya kemungkinan belaka. Kebebasan tidak hanya berarti bahwa tidak ada halangan lagi dan bahwa jalan terbuka. Kebebasan adalah pelaksanaan diri, Penemuan identitas sendiri dengan mewujudkan kemungkinan-kemungkinan yang ada.
V. PENUTUP
Demikian yang dapat kami sampaikan. Sedikit banyak semoga bisa menambah wawasan keilmuan kita. Kurang lebihnya mohon maaf, kritik dan saran kami harapkan dari semua pihak guna penyempurnaan makalah kami.
Wallahulmuwaffiq ila aqwamitthoriq
DAFTAR PUSTAKA
Bertrand Russel, Persoalan-Persoalan Di Bidang Filsafat, Ikon Teralitera, Yogyakarta, 2002
Dr. Nico Syukur Dister OFM, Filsafat Kebebasan, Kanisius, Yogyakarta, 1993
Dennis Wrong (Ed.), Max Wiber, Sebuah Hasanah, Ikon Teralitera, Yogyakarta, 2003
Hector Hawton, Filsafat Yang Menghibur, Ikon Teralitera, Yogyakarta, 2003



[1] Dr. Nico Syukur Dister OFM, Filsafat Kebebasan, Kanisius, Yogyakarta, 1993, hlm 40
[2] Dr. Nico Syukur Dister OFM, Ibid, hlm 51
[3] Dennis Wrong (Ed.), Max Wiber, Sebuah Hasanah, Ikon Teralitera, Yogyakarta, 203, hlm 120
[4] Hector Hawton, Filsafat Yang Menghibur, Ikon Teralitera, Yogyakarta, 2003, hlm 204
[5] Bertrand Russel, Persoalan-Persoalan Di Bidang Filsafat, Ikon Teralitera, Yogyakarta, 200, hlm 01
[6] Dr. Nico Syukur Dister OFM, Lock-cit, hlm 21-28



Labels : wallpapers Mobile Games car body design Hot Deal

ARGUMEN ONTOLOGIS




I. PENDAHULUAN
Dalam al-Qur’an terdapat banyak ayat argumentatif tentang keesaan (al-wahdaniyah) Tuhan. Salah satunya adalah firman Allah: “Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?” QS. Yusuf: 39. Nabi Yusuf mengajak berfikir teman satu selnya, manakah yang rasional, meyakini beberapa tuhan yang beraneka macam ataukah satu Tuhan?. Dari ayat introgratif ini, Al-Qur’an memperkenalkan sebuah argumen ontologis tentang keberadaan Tuhan
Argumen (burhân) Ontologi atau eksistensial, merupakan sebuah tema yang sejak abad ke-11 Masehi (abad ke-5 Hijriyah) telah ramai dibincangkan oleh para filosof. Perintis argumen ini adalah Santo Anselm. Berangkat dari sinilah, kemudian teori ini dikenal sebagai argumen Anselm.
II. POKOK PEMBAHASAN
  1. Siapakah Santo Anselm?
  2. Seperti Apakah Argument Ontologynya?
  3. Bagaimana Cara Dia Menemukan Argumennya?
  4. Dan Bagaimana Argument-Argument Ontology Para Filosof Selain Santo Anselm?
III. PEMBAHASAN
  1. Sekilas Tentang Santo Anselm
Santo Anselm adalah seorang ilmuwan era 11 Masehi, sezaman dengan kurun kelima Hijriyyah. Dia lahir pada tahun 1033 di salah satu kota kecil Italia. Dia menjadi Rahib Besar Dirbak pada tahun 1078. Kemudian menjadi Uskup Besar Counter Bury pada tahun 1093. Anselm disebut juga sebagai “Augustin kedua”. Dan terkadang pula dijuluki sebagai “Anselm yang suci”. Para Katolik memberikan gelar “Suci” padanya. Ia adalah orang yang secara eksplisit menyatakan bahwa yang harus dilakukan oleh seorang insan, pertama adalah beriman kepada hakikat-hakikat agama. Kemudian merasionalkannya (yaitu menghamba sebelum merasionalkan).
Alasan penamaannya dengan “Augustin kedua” adalah karena pengaturan filsafatnya yang mendekati “Augustin Cadis”. Dari opininya bisa ditemukan bahwa dia mempunyai pemikiran ala Plato, yang mengakui adanya alam mitsal (alam atas/alam ide). Anselm meninggalkan enam buah kitab penting yang kesemuanya membahas tentang Hikmat Ilahi dan berada di bawah pengaruh opini Plato. Nama-nama dari kitab tersebut adalah:
1. Dialogue de grammatico, 2. Monologium de divinitatis essentia sive Examplun de ration Fidei, 3. Proslogium sive Fides quaerens, 4. De Veritat, 5. De fide trinitatis, 6. Cur deus Home.
Anselm, berupaya menemukan dalil pasti untuk membuktikan wujud Tuhan. Berdasarkan apa yang telah ditulis oleh sebagian orang, dikatakan bahwa, Anselm tidak hanya mencukupkan dirinya dengan membenarkan saja. Bahkan ia juga menuntut adanya dalil-dalil pasti dan konklusif atas wujud Tuhan. Hal ini senantiasa mengganggu dan mengusik pikiran Anselm, pada saat ia menunaikan ibadah.
Dan bahkan tak jarang, hal tersebut telah membuatnya lupa untuk menyantap makanannya. Hingga akhirnya, pada satu dini hari, setelah sekian malamnya ia lalui dalam kontemplasi yang mendalam, ia menemukan apa yang selama bertahun-tahun ini telah mengganggunya.
Akhirnya ia menemukan apa yang ia cari selama ini, yaitu argumen yang terkenal sebagai “argumen ontologi”. Sebuah argumen untuk membuktikan wujud Tuhan.
  1. Beberapa Filosof Setelah Anselm Yang Memberikan Argument Ontology.
Setelah Anselm, muncul sosok lain dari ilmuwan era Scholastic yang bernama Johannes Duns Scotus (1265-1308), yang terkenal dengan sebutan “Guru yang berpandangan luas”. Dan terkenal pula sebagai lelaki yang cemerlang dan cerdas. Ia mengungkapkan teori ini dengan ulasan yang berbeda. Scotus sebagaimana Anselm, banyak meninggalkan pandangan-pandangan Aristoteles dan beralih pada gagasan-gagasan Plato.
Pada abad medieaval (abad pertengahan), sebagian orang menganggapnya sebagai pelanjut “tradisi Thomas” dan mengatakan bahwa pandangannya merupakan kolaborasi antara pendapat Augustin dan Aristoteles.
Setelah Scotus, sekali lagi argumen ontologi Anselm menapaki babak baru dengan penampilan yang berbeda yang dituangkan oleh Rene Descrates (1596-1650), seorang filosof terkenal asal Perancis.
Berturut-turut setelah itu, filosof asal Perancis yang bernama Nicolas Malebranche (1638-1715). Ia mengungkapkan pula argumen-argumen untuk membuktikan wujud Tuhan yang mirip dengan argumen ontologi Anselm.
Baruch Spinoza, (1632-1677) adalah filosof berikutnya yang mengungkapkan argumen ontologi ini dengan ungkapan dan penjelasan yang sangat indah.
Setelah Spinoza, muncul Gottfried Wilhelm Leibnitz (1646-1716) yang mengkoreksi argumen ontologi Anselm dan menemukan penjelasan yang lain.
Akhirnya, argumen ontologi melalui Immanuel Kant, menjadi sebuah argumen yang menjadi sasaran kritik dan diragukan. Tentu saja, sebagian filosof sebelum Kant –bahkan pada masa Anselm sendiri- juga telah menjadikan argumen ini sebagai bahan kritik.
Dan terakhir, Hegel (1770-1831) mengungkapkan pendapat lain tentang pembuktian wujud Tuhan.[1]
  1. Penjelasan Para Filosof Tentang Argument Ontology
Dalam hal ini kami hanya memaparkan argument ontology dari lima filosof, sebagaimana berikut:
1) Penjelasan Anselm
Dalam kitab “Mabâni wa Târikh Falsafe-ye Gharb” (Akar dan Sejarah Filsafat Barat) disebutkan sebagai berikut:
“Anselm mengatakan: seluruh eksistensi -kurang-lebihnya- senantiasa akan berhadapan dengan kesempurnaan. Oleh karena itu, konsepsi yang menggambarkan adanya sebuah realitas, dimana tidak ada lagi realitas yang lebih sempurna darinya yang mampu digambarkan, adalah sebuah konsepsi yang logis. Jika realitas yang didefinisikan ini adalah wujud Tuhan, berarti Tuhan harus riil. Karena, apabila Tuhan hanya merupakan gambaran, dan realitasnya hanya berada dalam pikiran, berarti masih bisa digambarkan adanya realitas lain yang lebih sempurna darinya, yaitu eksistensi yang betul-betul wujud. Dan ini berarti terjadi kontradiksi. Oleh karena itu, dan berdasarkan perhitungan logika, mau tidak mau harus diterima, bahwa realitas dan eksistensi yang kesempurnaannya mutlak betul-betul ada, dengan demikian maka Tuhan ada”.[2]
Setelah diketahui bahwa keberwujudan -sebagai sebuah persepsi dan juga sebagai sebuah realitas- lebih besar dari keberwujudan yang hanya sebagai sebuah konsepsi (tashawwur, gambaran dalam benak), maka berarti, Tuhan harus riil dalam hakikat, dan juga riil dalam konsepsi. Berdasarkan definisi ini, maka Tuhan adalah sebuah realitas wujud, dimana realitas lain yang lebih besar darinya tidak bisa dapat digambarkan. Oleh karena itu, Tuhan harus ada dalam realitas. Jika tidak, maka sesuatu yang lebih besar dari Tuhan masih bisa digambarkan (yaitu sebuah eksistensi yang selain mempunyai semua sifat-sifat Tuhan juga mempunyai keberadaaan yang riil). Dan ini mungkin melalui definisi Tuhan tersebut, atau melalui wujud yang superior dan sempurna”.[3]
Dalam kitab “Seir Hikmah dar Europa” (Perjalanan Filsafat di Eropa), dituliskan: “Dari semua argumen yang dikemukakan oleh Anselm untuk membuktikan esensi Tuhan, yang lebih banyak diketengahkan dan subyek pembahasan yang lebih banyak dimunculkan adalah apa yang terkenal dengan argumen “ontologi” atau “eksistensial”,??? sebagai berikut:
Setiap orang, bahkan orang yang dungu sekalipun, mempunyai konsepsi atas dzat (esensi), dimana tidak ada lagi realitas lain yang lebih besar dari dzat tersebut. Dzat seperti ini tentu saja ada. Karena apabila tidak ada, maka paling besarnya dzat yang masuk ke dalam konsepsi dan mempunyai realitas wujud, berarti lebih besar darinya. Dan hal ini keliru.
Dengan demikian, berarti -secara desisif- terdapat sebuah dzat yang dalam realitas merupakan paling besarnya dzat. Dan dia adalah Tuhan”.
Dalam Kamus Filsafat, dikatakan: “Anselm, memulai pembahasannya dengan menggunakan perumpamaan orang dungu. Pembahasan ini begitu panjang. Tetapi kami akan menyajikan permulaan pembahasannya tersebut sebagai berikut:
Bahkan seorang dungu pun percaya, bahwa minimal di dalam konsepsi dan pemahaman manusia terdapat sebuah realitas, dimana tidak ada realitas lain yang lebih baik darinya yang bisa digambarkan. Karena ketika dia mendengar perkataan ini, tanpa ragu lagi iapun akan memahaminya. Dan apa yang ia fahami ada dalam kefahamannya. Dan tanpa syak lagi, realitas tersebut -dimana realitas lain yang lebih baik darinya tidak bisa digambarkan lagi- tidak bisa hanya ada dalam pemahaman. Karena apabila kita asumsikan hanya ada dalam pemahaman, maka kelanjutan dari asumsi ini bisa dikonsepsikan bahwa pada alam riil pun terdapat realitas yang lebih besar dari persepsi kita. Jadi, apabila realitas tersebut, dimana realitas lain yang lebih besar darinya tidak bisa digambarkan lagi, hanya terdapat dalam konsepsi. Selanjutnya penggambaran sebuah benda akan muncul kemestian, bahwa ada realitas lain yang lebih baik dari nafs, dan hal ini mustahil. Karena tidak ada sesuatu yang lebih baik dari nafs. Oleh sebab itu, tidak ragu lagi bahwa ada sebuah realitas, dimana tidak ada realitas lain yang lebih baik darinya yang bisa digambarkan lagi. Dan realitas tersebut ada di dalam persepsi dan juga di alam riil. Dan secara pasti keberadaanya sangat benar, sehingga ketiadaannya tidak bisa digambarkan. Karena penggambaran sebuah wujud yang ketiadaannya tidak bisa digambarkan adalah memungkinkan. Dan ini lebih baik dari sesuatu yang ketiadaannya bisa digambarkan. Dari dasar ini, apabila realitas tersebut -dimana sesuatu yang lebih baik darinya tidak bisa dikonsepsikan- bisa ditiadakan. Berarti, realitas tersebut bukanlah realitas, dimana sesuatu yang lebih baik darinya tidak bisa lagi digambarkan. Tetapi, proposisi ini akan menyebabkan terjadinya kontradiksi yang tidak dapat diterima.
Jadi, kewujudan realitas tersebut sedemikian jelasnya, sehingga realitas lain yang lebih baik darinya, tidak bisa lagi digambarkan. Dan bahkan penggambaran ketiadaan realitas wujud semacam ini pun mustahil. Realitas wujud ini adalah Engkau, wahai Tuhan kami .....”[4].
2) Penjelasan Descartes
Dalam kitab “Seir Hikmah dar Europa”, dinukilkan tiga buah argumen (burhân) dari Descartes dalam membuktikan wujud Tuhan. Argumen ketiga adalah argumen ontologi Anselm yang dituangkan dengan penjelasannya yang khas, sebagai berikut:
“Kami katakan: Sebagian masalah merupakan bagian esensi dan hakikat dari sebagian masalah lainnya, dimana keduanya saling meniscayakan. Misalnya: akar dari kedua rangkaian sudut segitiga adalah bagian dari hakikat segitiga. Esensi Tuhan pun mempunyai inherensi (keniscayaan) dengan keberadaan. Karena Dia merupakan realitas kesempurnaan. Dan kesempurnaan tidak bisa digambarkan tanpa adanya wujud. Karena apabila tidak eksis, maka tidak akan sempurna. Sebagaimana tidak bisa digambarkannya gunung tanpa adanya lembah dan lereng. Dan apabila dikatakan: mungkin saja ada segitiga yang tidak melazimkan adanya akar dari kedua sudutnya, dan mungkin saja terdapat sebuah gunung yang tidak meniscayakan adanya lembah, maka kami akan mengatakan bahwa: Analogi ini sama sekali tidak benar. Karena interaksi wujud pada esensi sempurna, muncul sebagaimana interaksi yang terjadi antara lembah dengan gunung. Artinya sebagaimana halnya gunung tidak bisa ada tanpa lembah, maka dzat sempurna pun tidak bisa ada tanpa adanya wujud. Dengan ungkapan lain; keberadaan dzat sempurna adalah wajib”.
Dalam kitab Falâsefe-ye Buzurg (Filosof-filosof Besar), argumen ontologi Decrates dituangkan dengan uraian yang lebih jelas, sebagai berikut: “Dengan melalui analisa yang sederhana, kita ketahui bahwa segitiga secara niscaya mempunyai tiga sudut dan tiga siku. Maka gambarkanlah Tuhan dalam diri kalian dengan cara yang demikian pula. Dzat Tuhan, kita definisikan sebagai kesempurnaan mutlak.
Pada hakikatnya kesempurnaan mutlak adalah sebuah majemuk dari seluruh kesempurnaan yang bisa digambarkan. Tetapi, wujud merupakan sebuah kesempurnaan. Oleh karena itu, kesempurnaan mutlak apabila tidak mempunyai wujud, berarti bukan mutlak. Konklusinya: wujud mempunyai keterkaitan dengan kesempurnaan, sebagaimana mestinya segitiga yang mempunyai keterkaitan dengan tiga sudut dan tiga sikunya”.[5]
3) Penjelasan Malebranche dalam pembuktian esensi Tuhan
Malebranche mengatakan: “Ruh (baik nafs ataupun akal) tidak dapat dicerap, kecuali terdapat sesuatu yang menyatu dan menyambung dengannya. Karena ruh tidak mempunyai koheren dan kesinambungan yang hakiki dengan jasad. Dan koherensi riilnya adalah dengan Tuhan. Maka hanya wujud Tuhanlah yang bisa dicerap. Alasannya adalah sebagai berikut: Sebagaimana ketiadaan (non-exsistence), tidak mampu dilihat manusia, ketiadaan pun tidak mampu dirasiokan. Apapun yang bisa dirasionalkan oleh manusia, berarti ada. Dan kita melihat bahwa kita mempunyai pencerapan terhadap hal-hal tak terbatas. Oleh karena itu, dari paragraf ini bisa disimpulkan dua konklusi, pertama: hal-hal yang tak terbatas itu ada. Dan konklusi kedua: kita mempunyai kesinambungan dengan hal-hal yang tak terbatas tersebut. Karena apabila tidak ada, maka hal ini tidak akan relevan dengan akal kita. Kemudian apabila kita tidak mempunyai kesinambungan dengannya, maka kita tidak akan mampu mencerapnya. Dan hal tak terbatas tersebut (yaitu sesuatu yang kesempurnaannya tak terbatas), siapa lagi kalau bukan Tuhan.”[6]
Prinsip dari reasoning (penalaran) Malebranche adalah, bahwa segala hal yang bisa dikonsepsikan atau dicerap oleh akal, harus eksis. Karena kita mempunyai kemampuan untuk mencerap kesempurnaan mutlak, maka wujud inipun berarti harus eksis. Tetapi prinsip dari argumen Anselm adalah: Apabila kesempurnaan mutlak, yaitu Tuhan, tidak eksis, maka akan memestikan kontradiksi dan kesalahan.
4) Penjelasan Spinoza
Sekarang, kita akan membaca teks dari argumen Spinoza yang tertulis di dalam kitab “Akhlak” nya yang terkenal, sebagai berikut: (Proposisi 11: Tuhan adalah jauhar (substansi) yang diperkuat oleh sifat-sifat tak terbatas dimana setiap sifatnya merupakan eksplanasi dari dzat tak terbatas dan dzat abadi yang secara dharuri (niscaya) harus eksis).
Argumen: Apabila Anda tidak menerima proposisi ini, padahal keadaan memungkinkan, maka misalkanlah bahwa Tuhan tidak ada. Jika demikian, berarti dzatnya tidak meniscayakan adanya wujud. Tetapi hal ini tidak rasional. Dengan demikian, Tuhan secara dharuri ada, relevansinya terbukti.
Selain argumen yang telah tersebut, dalam kitab “Akhlak” Spinoza ini terdapat pula dua teori lain untuk membuktikan proposisi di atas. Teori ketiga adalah teori yang terdapat dalam kitab “Seir Hikmah dar Europa”. Di sana pula -dalam catatan kaki- diisyaratkan bahwa argumen ini adalah apa yang disebut sebagai argumen ontologi Anselm dan Descrates. Teks argumen ketiga dalam kitab “Akhlak” Spinoza adalah sebagai berikut:
“Ketiadaan kekuatan untuk eksis, merupakan dalil kelemahannya. Dan sebaliknya, kekuatan untuk eksis merupakan dalil adanya kekuatan -sebagaimana yang terlihat jelas. Dengan demikian, apabila yang eksis secara niscaya (dharuri) hanya benda-benda terbatas, dalam keadaan ini, keniscayaannya adalah bahwa benda-benda terbatas lebih kuat dari eksistensi yang secara mutlak tak terbatas. Dan ini jelas tidak rasional. Oleh karena itu kita, harus mengambil salah satu dari dua pilihan, yaitu “sesuatu tidak eksis (tidak ada)” atau “eksistensi yang secara mutlak tak terbatas tersebut itu eksis secara niscaya (dharuri)”. Tetapi kita ada dan eksis, baik dalam diri kita sendiri, ataupun dalam benda lain, yang eksis secara niscaya (dharuri). Dengan demikian, “eksistensi yang secara mutlak tak terbatas”, yaitu Tuhan secara dharuri adalah eksis, relefansinya terbukti).
5) Penjelasan Leibniz
Pada kitab “Seir Hikmah dar Europa”, dalam uraiannya tentang penjelasan Leibnitz dalam masalah theology tertulis: “Teori lain yang deduktif adalah teori ontologi Anselm yang diperbaharui pula oleh Descrates. Kesimpulannya adalah sebagai berikut: Begitu kita mempunyai gambaran tentang dzat sempurna, maka hal ini merupakan dalil, bahwa dia ada. Leibniz menyempurnakan teori ini dengan hal berikut, bahwa penggambaran dzat sempurna dan tak terbatas, tidak mempunyai penghalang akal, yaitu tidak termasuk kontradiktif. Dengan demikian tentu ada.
Penjelasan yang bisa ditangkap dari perkataan Leibniz adalah, dia sepakat bahwa setiap dzat yang bisa digambarkan dan wujudnya tidak tertolak akal, mempunyai keniscayaan wujud yang bersesuaian dengan gambaran hakekat dan kesempurnaan yang ada pada dzat tersebut. Dan dzat sempurna tersebut, keniscayaan wujudnya sedemikian sempurna, sehingga wujudnya adalah wajib. Dengan makna, bahwa dzat yang tidak sempurna dan terbatas -bisa jadi dari sisi dzat-dzat yang lain- menghadapi penghalang untuk kewujudannya. Tetapi untuk wujud sempurna, tidak akan mungkin ada penghalang. Berdasar hal ini, Leibnitz menyempurnakan teori ontologi dengan keyakinannya dengan hal berikut, pertama: wujud dzat sempurna telah terbukti tidak tertolak. Tidak ada pula penghalang, dan keniscayaan wujudnya sampai pada batas wujub. Dengan demikian, dzat semacam ini -dimana kita mempunyai gambaran atasnya dan mampu merasionalkannya- wujudnya adalah wajib.”[7]
IV. KESIMPULAN
Dari pemaparan di atas, kami hanya bias menyimpulkan bahwa: Seandainya mereka beranggapan bahwa mereka tidak diciptakan, maka berarti mereka menolak kausalitas yang berujung pada penolakan terhadap eksistensi eksistensi mereka sendiri, atau mengangggap diri mereka sebagai pencipta. Bila mereka masing-masing adalah pencipta, maka berarti mereka telah ada sebelum ada. Ia harus ada karena menjadi pencipta, dan sekaligus tidak ada karena akan diciptakan.
V. PENUTUP
Demikian yang dapat kami sampaikan. Kurang lebihnya mohon maaf, kritik dan saran kami harapkan dari semua pihak guna penyempurnaan mkalah kami.
Wallahulmuwaffiq ila aqwamitthoriq



[1] http://www.wisdoms4all.com/Indonesia/doc/Pustaka/Seri%20Argumen%20Filosofis/03.htm
[2] Reginal John Halinkdeil, Mabani wa Tarikh-e Falsafeh-ye Gharby, terjemahan Abdulhusein Adherank, Intisharat Keihan, hal. 125.
[3] Richard Popkin dan Aoron Stroll, Kuliyyat-e Falsafeh, hal. 238.
[4] ‘Ali ‘Ilmy Ardebily, Farhang-e Falsafah (Kamus Filsafat), J. 1, hal. 58-59.
[5] Andrew Crisson, Falâsife-ye Buzurgh, terjemahan Kadzim ‘Amady, J. 2, hal. 28, juga Kuliyyat-e Falsafah, hal. 238 dan 239
[6] Seir-e Hikmah dar Europa, J. 2, hal 22.
[7] http://www.wisdoms4all.com/Indonesia/doc/Pustaka/Seri%20Argumen%20Filosofis/03.htm, selasa, 15 okt 2008



Labels : wallpapers Mobile Games car body design Hot Deal
Search Terms : property home overseas properties property county mobil sedan oto blitz black pimmy ride Exotic Moge MotoGP Transportasi Mewah free-islamic-blogspot-template cute blogger template free-blog-skins-templates new-free-blogger-templates good template blogger template blogger ponsel Download template blogger Free Software Blog Free Blogger template Free Template for BLOGGER Free template sexy Free design Template theme blogspot free free classic bloggerskin download template blog car template website blog gratis daftar html template kumpulan templet Honda SUV car body design office property properties to buy properti new